Penjelasannya
Pada 1980-an, Indonesia adalah eksportir gas alam cair (LNG) nomor satu di dunia. Kini negara ini justru membatasi ekspor dan menyimpan cadangan gasnya di dalam negeri. Kenapa negara kaya energi menolak miliaran dolar dari pembeli luar negeri?
Karena hitungannya berubah. Mengekspor satu unit gas menghasilkan sekali pembayaran tunai; memakainya di dalam negeri menghidupi pabrik pupuk negara dan smelter industri. Pemerintah berpendapat rantai domestik ini menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja beberapa kali lebih besar daripada mengapalkan gasnya.
Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak gas yang kamu punya, melainkan berapa banyak yang kamu bangun dengannya.