Penjelasannya
Ketika lima puluh ribu suporter memadati stadion, panitia mendatangkan ribuan aparat. Namun tragedi dari Seoul sampai Kanjuruhan menunjukkan bahwa menambah kekuatan aparat tidak bisa mencegah kematian massa. Di Kanjuruhan, gas air mata justru memperburuk keadaan.
Keselamatan kerumunan bukan urusan penegakan hukum, melainkan hukum fisika. Ketika kepadatan melewati enam orang per meter persegi, kerumunan berhenti bergerak sebagai individu. Ia berubah menjadi aliran turbulen yang menimbulkan gelombang kejut dengan gaya tekan lebih dari 4.000 newton.
Korban tidak meninggal karena terjatuh, melainkan sesak napas akibat tekanan sambil tetap berdiri, karena paru-paru tidak bisa mengembang. Stadion yang aman tidak butuh lebih banyak tameng, tetapi perhitungan aliran massa yang cerdas dan gerbang yang terbuka lebar.