GeeGitMEDIA
BNPB Ungkap 44 Area Karhutla di Sumsel, DPR Desak Tindakan Cepat
bencana

BNPB Ungkap 44 Area Karhutla di Sumsel, DPR Desak Tindakan Cepat

18 Okt 2026 • 19:10 WIB · Redaktur Desk Bencana

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengidentifikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 44 area konversi hutan dan perkebunan Sumatera Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel merencanakan penyemaian dry ice selama 10 hari untuk memadamkan api, sementara anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menuntut pemerintah mempercepat penanganan yang telah berlangsung hampir empat bulan. Di sisi lain, perusahaan kelapa sawit seperti Golden Agri dan Wilmar membantah keterlibatan mereka setelah diminta klarifikasi oleh SGX RegCo. Semua pernyataan tersebut muncul pada hari yang sama, menandakan intensitas perhatian publik dan institusional terhadap krisis hutan ini.

Area konversi hutan dan perkebunan terdampak44 area
Durasi penyemaian dry ice10 hari
Lama kebakaran berlanjuthampir 4 bulan
Redaksi BertugasRedaktur Desk Bencana

Berdasarkan laporan Republika, BNPB menegaskan bahwa karhutla di Sumsel disebabkan oleh pembakaran hutan secara sengaja, dengan menyoroti komentar aktivis Kristomei yang menyebut upaya penanggulangan sebelumnya "percuma kita kerja keras". Laporan Antara menambahkan bahwa BPBD Sumsel akan melaksanakan penyemaian dry ice selama sepuluh hari, sebuah metode yang diharapkan dapat menurunkan suhu tanah dan memperlambat penyebaran api. Sindonews menyoroti desakan anggota DPR, Daniel Johan, yang menilai penanganan kebakaran yang telah hampir empat bulan harus dipercepat menjadi "superkilat" demi melindungi penduduk dan ekosistem. Sementara itu, CNBC Indonesia melaporkan bahwa SGX RegCo meminta klarifikasi terkait dugaan keterlibatan emiten sawit dalam kebakaran. Perusahaan Golden Agri dan Wilmar secara tegas membantah tuduhan tersebut, menyatakan tidak ada aktivitas pembakaran di lahan mereka dan menegaskan komitmen terhadap praktik agrikultur berkelanjutan. Reaksi pasar masih dipantau, namun belum ada dampak signifikan pada nilai saham perusahaan pada hari peliputan. Kombinasi temuan BNPB, langkah operasional BPBD, tekanan legislatif, dan respons korporasi menggambarkan dinamika multi‑pemangku kepentingan dalam menghadapi karhutla. Meskipun tidak ada data telemetri resmi yang tersedia, konsistensi laporan media memperkuat gambaran skala dan urgensi permasalahan.

Dampak bagi pembaca

Karhutla yang meluas di Sumsel menimbulkan dampak lingkungan berupa degradasi hutan, penurunan kualitas udara, dan ancaman kesehatan bagi masyarakat sekitar. Penundaan penanganan selama hampir empat bulan meningkatkan risiko kebakaran meluas ke lahan pertanian, mengancam produksi kelapa sawit dan pendapatan petani. Penyemaian dry ice diharapkan menjadi langkah mitigasi jangka pendek, namun diperlukan penegakan hukum terhadap pembakaran sengaja serta peningkatan koordinasi antar‑instansi. DPR menuntut percepatan respons, sementara perusahaan sawit harus memperkuat transparansi operasional untuk menghindari stigma pasar. Langkah konkret yang dapat diambil meliputi peningkatan patroli satelit, pelibatan komunitas lokal dalam pemantauan, dan penyediaan dana darurat bagi korban kebakaran.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Antara Berita Terkini & Bencana, Republika News, Sindonews Nasional)