GeeGitMEDIA
Partai Palestina Naik Tajam, Netanyahu Terancam Kehilangan Kekuasaan
geopolitik

Partai Palestina Naik Tajam, Netanyahu Terancam Kehilangan Kekuasaan

28 Okt 2026 • 07:10 WIB · Redaktur Desk Geopolitik

Pada Selasa, 28 Oktober 2026, Israel menggelar pemilu legislatif yang melibatkan 7,3 juta pemilih terdaftar. Hasil awal menunjukkan partai-partai yang mewakili warga keturunan Palestina memperoleh lonjakan kursi, menimbulkan ancaman nyata bagi kelangsungan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sementara Gadi Eisenkot mengklaim unggul dalam exit poll, Netanyahu masih belum memberikan pernyataan resmi, menambah ketidakpastian politik di negeri tersebut.

Pemilih terdaftar7,3 juta
Tanggal pemilu28 Oktober 2026
Redaksi BertugasRedaktur Desk Geopolitik

Berdasarkan laporan Katadata Riset & Ekonomi, sebanyak 7,3 juta pemilih yang terdaftar memberikan hak suara pada pemilu hari Selasa. CNN Indonesia Internasional menambahkan bahwa exit poll belum memberikan hasil pasti, namun Gadi Eisenkot mengklaim keunggulan sementara Netanyahu tetap bungkam. Republika News menyoroti bahwa partai-partai Palestina, yang biasanya berada di luar koalisi utama, mencatat peningkatan dukungan signifikan dalam hitung cepat, menandakan potensi pergeseran keseimbangan kekuasaan di Knesset. Kenaikan dukungan tersebut, menurut Republika, dapat memaksa Netanyahu untuk merundingkan koalisi baru atau menghadapi kemungkinan kehilangan mayoritas. Jika partai-partai Palestina berhasil masuk ke parlemen dengan jumlah kursi yang cukup, mereka dapat menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan, memaksa perubahan kebijakan terkait isu-isu Palestina dan keamanan regional. Sementara itu, analis politik yang dikutip oleh Katadata memperingatkan bahwa fragmentasi parlemen dapat memperpanjang periode koalisi yang rapuh, meningkatkan ketidakstabilan politik dalam negeri Israel.

Dampak bagi pembaca

Jika Netanyahu kehilangan mayoritas, proses pembentukan pemerintahan baru dapat memakan waktu berbulan-bulan, menunda kebijakan domestik dan luar negeri. Kekuatan politik Palestina yang meningkat dapat memperkuat tekanan internasional terhadap kebijakan Israel di wilayah pendudukan, memicu debat di forum PBB dan memengaruhi hubungan bilateral dengan negara-negara Arab. Bagi masyarakat Israel, ketidakpastian politik dapat memengaruhi pasar keuangan, nilai tukar shekel, serta kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi. Pemerintah dan partai politik diperkirakan akan mempercepat negosiasi koalisi untuk menghindari krisis pemerintahan yang lebih dalam.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Katadata Riset & Ekonomi, CNN Indonesia Internasional, Republika News)