GeeGitMEDIA
IHSG Ditutup Menghijau ke 6.462, Volume Transaksi Rp13,8 Triliun
finansial

IHSG Ditutup Menghijau ke 6.462, Volume Transaksi Rp13,8 Triliun

17 Sep 2026 • 19:20 WIB · Redaktur Desk Finansial

Pada Kamis, 17 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 0,40% atau 25,58 poin ke level 6.462, dengan total nilai transaksi mencapai Rp13,8 triliun. Penutupan hijau ini terjadi di tengah sentimen pasar yang menanti respons Bank Indonesia setelah kebijakan hawkish The Fed, serta didorong oleh crossing saham BINA dan BBCA. Investor dan pelaku pasar menyambut kenaikan tersebut sebagai indikasi momentum positif menjelang akhir pekan.

Level IHSG6.462 poin
Kenaikan0,40% (25,58 poin)
Volume TransaksiRp13,8 triliun
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan Kontan Investasi & Makro, IHSG diproyeksikan akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Sementara itu, Katadata Riset & Ekonomi mencatat bahwa pada penutupan Kamis, IHSG naik 0,4% ke 6.462, didukung oleh crossing jumbo saham BINA dan grup Djarum (BBCA). Antara Berita Terkini & Bencana menyoroti bahwa penguatan indeks terjadi di tengah pasar yang menantikan respons kebijakan moneter Bank Indonesia pasca pernyataan hawkish The Fed. Sindonews Ekonomi & Bisnis menambahkan bahwa penguatan sebesar 25,58 poin tercapai pada sesi terakhir perdagangan, menandai zona hijau. CNN Indonesia Ekonomi melaporkan bahwa 384 saham menguat pada penutupan yang sama, menegaskan luasnya partisipasi bullish di pasar saham. Tidak ada data telemetri resmi tambahan yang diperlukan untuk mengonfirmasi angka-angka tersebut, namun semua sumber sepakat pada level akhir 6.462 dan volume transaksi Rp13,8 triliun.

Dampak bagi pembaca

Penguatan IHSG ke zona hijau menandakan peningkatan kepercayaan investor setelah kebijakan moneter global yang ketat. Volume transaksi yang mencapai Rp13,8 triliun menunjukkan likuiditas tinggi, memberi sinyal bahwa pasar domestik tetap aktif meski ada ketidakpastian eksternal. Bagi investor ritel, kenaikan ini dapat meningkatkan minat beli pada saham-saham unggulan, sementara institusi mungkin menyesuaikan alokasi portofolio untuk memanfaatkan momentum. Pemerintah dan regulator dapat memantau tren ini sebagai indikator stabilitas pasar modal, sementara pelaku usaha harus memperhatikan dampak sentimen positif terhadap biaya modal dan investasi baru.

Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Kontan Investasi & Makro, Katadata Riset & Ekonomi, Antara Berita Terkini & Bencana)