IHSG Ambles 1,06% ke Level 6.307 Disusul Aksi Jual Asing Rp 987 Miliar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat dan terperosok 1,06% atau setara dengan 67,81 poin ke level 6.307,11 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis, 24 September 2026, di tengah sentimen pasar global yang mengarah pada suku bunga Bank Indonesia dan lonjakan imbal hasil US Treasury.
Berdasarkan laporan komprehensif dari berbagai media ekonomi, kejatuhan pasar saham domestik ini dikonfirmasi secara seragam oleh sejumlah sumber utama. Katadata Riset & Ekonomi mencatat bahwa investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup masif hingga mencapai Rp 987 miliar menjelang jeda siang hari. Sementara itu, liputan dari Sindonews Ekonomi & Bisnis serta CNBC Indonesia Market memperinci bahwa pelemahan ini menyeret mayoritas emiten, di mana CNBC mencatat ada sebanyak 472 saham yang bergerak di zona merah. Di sisi lain, Kontan Investasi & Makro memberikan detail lebih tajam mengenai pergerakan sektoral dan indeks LQ45, yang menunjukkan bahwa sektor barang baku mengalami kejatuhan paling dalam pada akhir sesi pertama perdagangan. Jajaran top losers dalam indeks LQ45 diisi oleh saham-saham seperti BUMI, NCKL, dan DEWA. Di luar pergerakan indeks utama, Detik Finance juga melaporkan adanya aksi korporasi di sektor finansial berupa kerja sama Asset Buy senilai Rp 100 miliar antara bank bjb dan MNC Finance untuk mengoptimalkan portofolio bisnis.
Dampak bagi pembaca
Tekanan pelemahan IHSG dan tingginya aksi jual asing menunjukkan tingginya volatilitas pasar keuangan yang perlu dicermati oleh para investor ritel maupun institusional. Pelaku pasar disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio secara bijak, memperketat manajemen risiko, serta mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral serta perkembangan makroekonomi global untuk memitigasi potensi koreksi lanjutan.
Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Katadata Riset & Ekonomi, Sindonews Ekonomi & Bisnis, Kontan Investasi & Makro)