GeeGitMEDIA
Gubernur BI Ungkap Tekanan Rupiah Menembus Rp18.000 dan Antisipasi Kenaikan Suku Bunga AS
finansial

Gubernur BI Ungkap Tekanan Rupiah Menembus Rp18.000 dan Antisipasi Kenaikan Suku Bunga AS

19 Okt 2026 • 23:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan hingga menembus level di atas Rp18.000 per dolar AS, sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti melaporkan langkah-langkah stabilisasi langsung kepada Presiden Prabowo pada Senin, 19 Oktober 2026.

Kurs USD/IDRRp18.042,9
Perubahan USD/IDR0,07 Persen
Inflasi y-on-y (BPS)3,28 Persen
Inflasi Pangan5 Persen
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan Katadata Riset & Ekonomi, tekanan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh sejumlah faktor fundamental dan eksternal. Sementara itu, liputan Detik Finance menyoroti prediksi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunganya pada bulan Oktober ini, yang turut memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo sebagaimana dihimpun oleh CNBC Indonesia Market, Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa otoritas moneter tetap berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam dua hari ini. Selain kurs mata uang, pertemuan tersebut juga membahas perkembangan inflasi pangan yang dilaporkan mencapai 5%. Konfirmasi dari data telemetri resmi TwelveData mencatat pasangan mata uang USD/IDR berada di level nilai Rp18.042,9 dengan perubahan 0,07 persen, selaras dengan temuan di lapangan. Di sisi lain, data resmi BPS mencatat inflasi secara year-on-year (y-on-y) pada September 2026 berada di angka 3,28 persen.

Dampak bagi pembaca

Tekanan nilai tukar rupiah dan tingginya inflasi pangan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan biaya impor bahan baku serta beban operasional industri dalam negeri. Langkah mitigasi konkret yang ditempuh Bank Indonesia meliputi intervensi pasar secara terukur untuk menjaga stabilitas likuiditas, koordinasi erat dengan pemerintah dalam pengendalian harga pangan strategis, serta antisipasi dini terhadap kebijakan suku bunga global guna meredam volatilitas lanjutan di pasar keuangan.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Detik Finance, Katadata Riset & Ekonomi, CNBC Indonesia Market)