Pasar Kripto Tertekan Usai Binance Dibobol Hacker dan Aset Triliunan Raib
Pasar kripto global mengalami tekanan hebat menyusul insiden peretasan besar yang menimpa bursa kripto Binance, yang memicu koreksi harga aset digital seperti Bitcoin pada akhir Oktober 2026.
Berdasarkan laporan dari berbagai media, insiden keamanan siber ini langsung mengguncang industri aset digital global. Berdasarkan liputan CNBC Indonesia Tech & Inovasi, kerugian akibat peretasan tersebut mencapai US$6,3 miliar atau setara dengan Rp104 triliun, di mana pihak Binance berjanji akan memberikan ganti rugi kepada pihak yang terdampak. Sementara itu, BBC News Indonesia mencatat estimasi kerugian yang sedikit berbeda, yakni mencapai aset senilai Rp114,3 triliun yang raib dicuri. Dalam perkembangannya, investigasi awal mengarah pada dugaan keterlibatan pihak luar. Sebagaimana disoroti oleh Detik Finance, pembobolan pada bursa kripto terbesar di dunia ini diduga kuat dilakukan oleh kelompok peretas asal Korea Utara. Peristiwa yang terjadi menjelang akhir bulan tersebut memperparah situasi pasar. Di sisi lain, Kontan Investasi & Makro melaporkan bahwa aksi pembobolan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menambah beban tekanan terhadap pasar kripto global yang sebelumnya sudah tertekan oleh sentimen global. Akibat akumulasi sentimen negatif dan insiden peretasan ini, harga Bitcoin (BTC) langsung mengalami koreksi tajam pada perdagangan tanggal 30 Oktober 2026.
Dampak bagi pembaca
Insiden peretasan berskala masif ini memberikan implikasi nyata berupa meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keamanan penyimpanan aset di bursa terpusat. Bagi para pelaku industri dan konsumen, peristiwa ini menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan protokol keamanan siber, diversifikasi penyimpanan aset, serta kehati-hatian dalam membaca proyeksi pasar di tengah tingginya volatilitas global.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (CNBC Indonesia Tech & Inovasi, Detik Finance, Kontan Investasi & Makro)