GeeGitMEDIA
IHSG Menguat 0,58% Meski Saham RANS Turun di Bawah Rp 100
finansial

IHSG Menguat 0,58% Meski Saham RANS Turun di Bawah Rp 100

03 Nov 2026 • 15:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Pada Selasa, 3 November 2026, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 0,58% ke level 5.126, sementara saham PT Rans Entertainment (RANS) jatuh di bawah Rp 100 per lembar, mencatat penurunan hampir 5% setelah kontroversi publik yang memicu seruan boikot; kondisi ini terjadi di tengah tekanan pasar yang belum teratasi meski pengecualian saham berkapitalisasi tinggi seperti HSC tetap dipertahankan dalam perhitungan IHSG.

Level IHSG5.126
Penguatan IHSG0,58%
Harga Saham RANS< Rp 100 per lembar
Penurunan Saham RANS≈ 5%
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan Sindonews Ekonomi & Bisnis, IHSG pada pukul 09.42 WIB menunjukkan penguatan awal perdagangan, didorong mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Namun, Kontan Investasi & Makro menyoroti bahwa pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, termasuk HSC, belum mampu meredakan tekanan keseluruhan pada indeks, menandakan adanya ketidakstabilan yang masih tersisa. Detik Finance melaporkan bahwa harga saham RANS berada di bawah Rp 100 per lembar pada pukul 10.47 WIB, menandai penurunan signifikan dari level IPO. CNN Indonesia Ekonomi menambahkan bahwa penurunan hampir 5% ini dipicu oleh kontroversi seputar figur publik Raffi Ahmad, yang memicu seruan boikot dan menurunkan jumlah investor serta volume transaksi. Sementara itu, laporan Katadata Riset & Ekonomi mencatat bahwa pasar saham Amerika Serikat, khususnya indeks teknologi di Wall Street, juga mengalami penurunan pada Senin (2/11), mencerminkan sentimen risk-off global yang berpotensi menambah tekanan pada pasar ekuitas Indonesia.

Dampak bagi pembaca

Penguatan IHSG tidak cukup mengimbangi penurunan saham RANS, yang dapat menurunkan kepercayaan investor ritel terhadap perusahaan hiburan lokal. Boikot yang dipicu kontroversi publik berpotensi memperpanjang volatilitas, memaksa manajer portofolio untuk menyesuaikan alokasi aset. Bagi regulator, situasi ini menegaskan pentingnya transparansi kepemilikan dan pengawasan terhadap aksi boikot yang dapat mempengaruhi likuiditas pasar. Investor disarankan memantau perkembangan berita terkait RANS serta kebijakan BEI mengenai pengecualian saham berkapitalisasi tinggi.

Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Kontan Investasi & Makro, Detik Finance, CNN Indonesia Ekonomi)