GeeGitMEDIA
IHSG Anjlok 1,49% ke 6.490, Top Losers LQ45: ESSA, CUAN, CPIN
finansial

IHSG Anjlok 1,49% ke 6.490, Top Losers LQ45: ESSA, CUAN, CPIN

11 Sep 2026 • 14:00 WIB · Redaktur Desk Finansial

Pada Jumat, 11 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia jatuh 1,49% ke level 6.490 pada sesi pertama perdagangan setelah dibuka melemah di pagi hari. Penurunan dipicu oleh lonjakan yield US Treasury, kenaikan harga minyak, serta ekspektasi kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve. Investor menyaksikan pergerakan ini sejak pukul 09:51 WIB, dengan dampak langsung pada saham-saham LQ45 teratas yang menjadi top losers: ESSA, CUAN, dan CPIN.

IHSG Level Akhir Sesi I6.490
Penurunan IHSG (%)1,49%
IHSG Level Pembukaan6.552
Penurunan Pembukaan (%)0,55%
Top Losers LQ45ESSA, CUAN, CPIN
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Menurut Antara (09:51 WIB), IHSG mulai melemah seiring naiknya harga minyak dunia dan sinyal Fed yang lebih ketat. Sindonews (10:32 WIB) melaporkan pembukaan pasar dengan penurunan 0,55% atau 36,15 poin ke level 6.552, menandakan tekanan awal sebelum penurunan lebih dalam. Kontan Investasi & Makro (11:42 WIB) mengonfirmasi bahwa pada sesi I IHSG berada di zona merah, turun 1,49% ke 6.490, sekaligus menyoroti tiga saham LQ45 terburuk: ESSA, CUAN, dan CPIN. CNBC Indonesia Market (13:30 WIB) menambahkan konteks makro dengan menyebutkan lonjakan yield US Treasury sebagai faktor utama yang memperparah sentimen pasar, meski tidak menyebut angka spesifik. Semua laporan sepakat bahwa kombinasi faktor eksternal—yield obligasi AS, harga minyak, dan kebijakan Fed—menjadi pemicu utama penurunan tajam IHSG pada hari itu.

Dampak bagi pembaca

Penurunan tajam IHSG menandakan volatilitas tinggi bagi portofolio saham domestik, terutama bagi investor yang memegang saham LQ45. Kenaikan yield US Treasury dapat menurunkan aliran modal ke pasar ekuitas Asia, sementara harga minyak yang naik menambah tekanan pada sektor energi dan konsumen. Investor disarankan memantau kebijakan Fed, pergerakan yield obligasi, serta data inflasi global sebelum mengambil keputusan alokasi aset. Diversifikasi ke instrumen yang kurang sensitif terhadap faktor eksternal, seperti obligasi korporasi lokal atau reksa dana defensif, dapat menjadi strategi mitigasi sementara.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (CNBC Indonesia Market, Kontan Investasi & Makro, Sindonews Ekonomi & Bisnis)