GeeGitMEDIA
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.871 Per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Turun
finansial

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.871 Per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Turun

24 Sep 2026 • 13:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, tertekan oleh kombinasi faktor global dan domestik yang turut menyeret mayoritas mata uang kawasan Asia ke zona merah.

Kurs Spot TertinggiRp17.903 / USD
Pelemahan Harian-0,43%
Yield US Treasury5,11%
Harga Minyak DuniaUS$100 / barel
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan dari berbagai media nasional pada Kamis, 24 September 2026, tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi secara masif di pasar spot. Liputan Kontan Investasi & Makro mencatat bahwa rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.894 per dolar AS dengan pelemahan harian mencapai 0,43% pada tengah hari, bahkan sempat terperosok ke kisaran Rp17.900 per dolar AS. Sementara itu, laporan dari CNN Indonesia Ekonomi menambahkan bahwa nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.903 per dolar AS menjelang siang hari. Dalam analisis lebih mendalam, Detik Finance dan CNBC Indonesia Market menyoroti faktor fundamental global yang menjadi biang kerok tekanan ini, di antaranya tingginya *yield* surat utang AS atau US Treasury yang mencapai 5,11%, lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS, serta tingginya kebutuhan dolar AS dari para importir domestik. Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus berupaya melakukan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar secara intensif dan penerapan strategi moneter yang pro-market. Sebagai bentuk konfirmasi data telemetri keuangan resmi, sistem TwelveData merekam pergerakan pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran nilai Rp17.794,95 dengan fluktuasi harian tercatat mengalami perubahan sebesar -0,14%. Kondisi ini menunjukkan tingginya volatilitas pasar keuangan yang memerlukan pemantauan ketat dari otoritas moneter.

Dampak bagi pembaca

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS berdampak langsung pada peningkatan biaya impor bahan baku dan energi, yang berpotensi memicu tekanan inflasi di dalam negeri. Bagi para pelaku industri dan konsumen, situasi ini menuntut langkah mitigasi berupa efisiensi operasional serta penguatan rantai pasok lokal. Bank Indonesia bersama otoritas terkait terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mencegah gejolak lanjutan di pasar keuangan.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (CNN Indonesia Ekonomi, Kontan Investasi & Makro, Detik Finance)