Karhutla dan Kabut Asap Kualanamu: Dampak Penerbangan serta Upaya Sumur Bor untuk Pemulihan Gambut
Pada Kamis, 15 Oktober 2026, kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, menyebabkan tiga penerbangan domestik dibatalkan. Sementara itu, Satgas Penanggulangan dan Rehabilitasi (PRR) melaporkan pembangunan 1.198 sumur bor selesai di tiga provinsi sebagai bagian dari program pemulihan lahan gambut yang terdampak banjir. Menurut The Conversation Indonesia, peran aktif warga menjadi faktor penentu keberhasilan rehabilitasi gambut. Semua peristiwa ini terjadi bersamaan, menyoroti keterkaitan antara kebakaran hutan, kualitas udara, transportasi, dan upaya restorasi ekosistem.
Berdasarkan laporan Republika News, pihak pengelola Bandara Kualanamu mengonfirmasi adanya pembatalan dan penundaan penerbangan domestik pada Kamis (15/10) akibat kabut asap tebal yang menurunkan visibilitas. Antara Berita Terkini & Bencana menegaskan hal yang sama, menyebut PT Angkasa Pura Aviasi sebagai pengelola bandara yang mengambil keputusan pembatalan tiga penerbangan demi keamanan penumpang. Kedua media menekankan dampak langsung pada mobilitas penumpang dan potensi kerugian ekonomi. Tempo Politik & Hukum melaporkan bahwa Satgas PRR, dalam laporan harian per 12 Oktober 2026, telah menyelesaikan pembangunan 1.198 sumur bor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan tambahan 639 sumur masih dalam proses. Sumur bor ini ditujukan untuk mengurangi genangan air pada lahan gambut yang rawan banjir, sekaligus mendukung upaya restorasi setelah kebakaran. The Conversation Indonesia menyoroti temuan ilmiah bahwa keterlibatan warga dalam pemantauan dan perawatan lahan gambut menjadi kunci keberhasilan pemulihan. Penelitian tersebut menekankan bahwa strategi berbasis komunitas dapat menurunkan risiko karhutla di masa depan, sekaligus meningkatkan ketahanan sosial‑ekologis daerah rawan kebakaran.
Dampak bagi pembaca
Kabut asap yang mengganggu operasional bandara menimbulkan kerugian bagi maskapai, penumpang, dan sektor pariwisata regional. Pembangunan sumur bor memberikan solusi jangka panjang untuk mengendalikan banjir pada lahan gambut, namun memerlukan dukungan teknis dan pendanaan berkelanjutan. Penekanan pada peran warga dalam pemulihan gambut mengindikasikan perlunya program edukasi, pelibatan masyarakat, dan kebijakan yang memfasilitasi partisipasi aktif, sehingga risiko karhutla dapat diminimalisir dan kualitas udara membaik. Langkah mitigasi konkret meliputi: (1) peningkatan koordinasi antara otoritas bandara dan Badan Penanggulangan Bencana Nasional untuk penanganan asap; (2) percepatan penyelesaian sumur bor yang masih dalam proses; (3) pelatihan warga tentang teknik restorasi gambut dan deteksi dini kebakaran; serta (4) penguatan regulasi lahan untuk mencegah alih fungsi yang memicu karhutla.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Republika News, Antara Berita Terkini & Bencana, Tempo Politik & Hukum)