GeeGitMEDIA
IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Pasar Keuangan Dibayangi Tekanan Pagi Ini
finansial

IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Pasar Keuangan Dibayangi Tekanan Pagi Ini

13 Okt 2026 • 11:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Pasar keuangan domestik mengawali perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026 pagi dengan tren negatif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan ke zona merah seiring pergerakan nilai tukar rupiah yang tak berdaya menghadapi penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG Pembukaan5.914 (-0,36%)
Rupiah BloombergRp 17.947 / USD
Rupiah Spot KontanRp 17.942 / USD
Telemetri USD/IDRRp 17.919,85 (+0,22%)
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan harian dari berbagai media nasional, tekanan di lantai bursa dan pasar uang terlihat jelas sejak bel pembukaan perdagangan. Berdasarkan liputan Sindonews Ekonomi & Bisnis, IHSG pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 09.37 WIB dibuka melemah sebesar 0,36% ke level 5.914, dengan catatan sebanyak 351 saham mengalami kejatuhan di awal sesi. Tekanan ini juga dikonfirmasi oleh sentimen pelemahan pada indeks saham pilihan seperti jajaran top losers LQ45 termasuk INKP, JPFA, dan CPIN. Sementara itu di pasar valuta asing, pergerakan rupiah menunjukkan tren pelemahan yang signifikan terhadap dolar AS. Liputan Katadata Riset & Ekonomi merinci bahwa berdasarkan data Bloomberg, kurs mata uang Garuda tersebut dibuka pada level Rp 17.947 per dolar AS pada Selasa pagi. Laporan dari Kontan Investasi & Makro turut memperkuat temuan ini, mencatat pada pukul 09.11 WIB rupiah spot berada di posisi Rp 17.942 per dolar AS atau melemah 0,16% dibanding hari sebelumnya. Adapun CNBC Indonesia Market melaporkan sentimen serupa di mana rupiah kehilangan tenaga sejak awal perdagangan. Konfirmasi data telemetri resmi dari TwelveData mencatat pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran nilai Rp 17.919,85 dengan perubahan positif 0,22% bagi penguatan dolar AS.

Dampak bagi pembaca

Pelemahan simultan pada IHSG dan nilai tukar rupiah memberikan sentimen negatif bagi para pelaku pasar, investor institusional, maupun sektor korporasi yang memiliki eksposur utang luar negeri atau ketergantungan bahan baku impor. Pelaku industri dan investor disarankan untuk tetap berhati-hati, memperketat manajemen risiko portofolio, serta mencermati sentimen makroekonomi global lanjutan guna mengantisipasi volatilitas pasar yang tinggi.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Sindonews Ekonomi & Bisnis, Katadata Riset & Ekonomi, Kontan Investasi & Makro)