Rupiah Babak Belur di Level Rp18.156 per Dolar AS di Tengah Bayang-Bayang Surplus Dagang
Nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat pada penutupan perdagangan Senin, 2 November 2026, hingga terperosok ke level Rp18.156 per dolar AS, meskipun perekonomian nasional masih mencatatkan surplus neraca perdagangan yang kini mulai menyusut dan membayangi langkah stabilisasi Bank Indonesia.
Berdasarkan laporan Sindonews Ekonomi & Bisnis, kejatuhan kurs rupiah ini terus berlangsung hingga akhir perdagangan hari Senin, 2 November 2026, menempatkannya pada posisi Rp18.156 per dolar AS. Sementara itu, liputan dari Kontan Investasi & Makro yang merujuk pada data Bloomberg memperinci bahwa rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 0,05% pada angka yang sama. Di sisi lain, Google News Ekonomi Makro, yang menghimpun ulasan dari Kompas.id, menyoroti bahwa menyusutnya surplus perdagangan turut menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas nilai tukar serta kinerja Bank Indonesia dalam menjaga ketahanan makroekonomi. Sebagai perbandingan dan validasi data pasar, sistem telemetri finansial TwelveData mencatat pergerakan pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran nilai Rp18.148,2 per dolar AS dengan tingkat perubahan harian sebesar 0,03%. Tekanan jual dari investor asing yang masih membayangi pasar keuangan domestik turut menjadi katalis negatif bagi pergerakan mata uang Garuda di awal pekan ini, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan sektor eksternal di tengah dinamika global.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan nilai tukar rupiah yang disertai menyusutnya surplus dagang memberikan implikasi nyata bagi para pelaku industri, khususnya sektor yang bergantung pada bahan baku impor serta pembiayaan valuta asing. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu tekanan inflasi barang impor. Bank Indonesia bersama otoritas fiskal diharapkan terus memperkuat bauran kebijakan dan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memitigasi risiko volatilitas lanjutan bagi perekonomian nasional.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Sindonews Ekonomi & Bisnis, Kontan Investasi & Makro, Google News Ekonomi Makro)