Anak Presiden Ajak Warga Buang Dolar untuk Menyelamatkan Rupiah
Pada Minggu, 13 September 2026, pukul 12.30 WIB, anak Presiden Indonesia mengusulkan agar warga menukarkan atau "membuang" dolar AS mereka demi menstabilkan nilai tukar rupiah yang masih terpengaruh jejak krisis moneter 1997‑1998. Usulan tersebut muncul di tengah perbincangan publik tentang gerakan “Cinta Rupiah” yang kini kembali mendapat sorotan kritis.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia Market, usulan tersebut menyinggung nostalgia masa krisis moneter akhir 1990‑an, ketika pemerintah meluncurkan program penukaran dolar untuk menahan depresiasi rupiah. CNBC menyoroti bahwa meskipun gerakan Cinta Rupiah pernah mendapat pujian, kini kritik kembali menguat karena nilai tukar USD/IDR masih melemah. Data resmi dari Bank Indonesia yang dirujuk dalam telemetri menunjukkan kurs dolar pada hari itu berada di 17.602,65 rupiah per dolar, dengan kenaikan 0,16 % dibandingkan sesi sebelumnya. Angka ini menjadi bukti bahwa tekanan pada rupiah masih terasa, meski tidak setinggi masa krisis. Media lain belum melaporkan reaksi resmi pemerintah atau lembaga keuangan, sehingga CNBC tetap menjadi satu-satunya sumber yang mengangkat suara anak Presiden serta menempatkannya dalam konteks historis. Tidak ada data tambahan mengenai volume penukaran atau dampak langsung pada pasar valuta asing, sehingga analisis tetap bersandar pada kurs harian dan narasi politik yang muncul.
Dampak bagi pembaca
Jika usulan tersebut diikuti secara luas, potensi penurunan permintaan dolar di pasar domestik dapat memberikan dukungan jangka pendek pada nilai tukar rupiah. Namun, tanpa koordinasi kebijakan moneter yang jelas, efeknya mungkin terbatas. Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan menimbang langkah-langkah tambahan, seperti intervensi pasar atau penyesuaian suku bunga, untuk menghindari volatilitas berlebih. Bagi masyarakat, ajakan ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan aset dalam dolar dan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Buka sumber asal: CNBC Indonesia Market