Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Pasar, BI Kurangi Intervensi Pasar Spot
Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan berat pada perdagangan Senin, 28 September 2026, di tengah dinamika pasar keuangan regional Asia yang bergerak variatif atau mixed. Berdasarkan pantauan lintas media dan data telemetri, tekanan ekonomi ini memicu Bank Indonesia (BI) untuk mengambil langkah penyesuaian strategi stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia Market pada Senin, 28 September 2026 pukul 14.18 WIB, Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa intervensi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot kini makin dikurangi guna menghemat cadangan devisa (cadev), dengan porsi intervensi yang tersisa sekitar 30%. Sementara itu, liputan dari Kontan Keuangan pada pukul 13.03 WIB menyoroti sisi domestik yang menunjukkan pertumbuhan penggunaan QRIS telah mencapai sekitar 67 juta pengguna, atau mencakup seperempat dari total penduduk Indonesia, meskipun pertumbuhan uang kartal terpantau melambat. Di sisi pasar modal, Sindonews Ekonomi & Bisnis dalam rilis pukul 09.01 WIB melaporkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih menghadapi tekanan volatilitas tinggi pekan ini setelah sebelumnya ambles 3% dengan catatan *outflow* (arus modal keluar) asing mencapai Rp3,5 triliun. Tekanan tersebut diperparah oleh kombinasi kenaikan suku bunga bank sentral utama dunia serta lonjakan harga energi global. Sebagai bentuk konfirmasi data ekonomi makro, telemetri resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi *year-on-year* (y-on-y) pada Agustus 2026 berada di level 3,19 persen. Adapun data pasar keuangan mencatat nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.913,9 per USD dengan koreksi tipis -0,1 persen, memperlihatkan fluktuasi ketat di tengah sentimen global yang melingkupi pasar finansial nasional.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya volatilitas pasar keuangan berpotensi mendongkrak biaya impor bahan baku serta energi bagi dunia usaha, yang pada gilirannya dapat memicu tekanan inflasi lanjutan melampaui angka 3,19 persen. Bagi konsumen, kondisi ini menuntut efisiensi pengeluaran dan peningkatan adopsi sistem pembayaran digital seperti QRIS yang kian masif untuk transaksi harian. Pemerintah dan otoritas moneter disarankan untuk memperkuat sinergi fiskal serta menjaga ketahanan cadangan devisa guna meredam sentimen eksternal.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (CNBC Indonesia Market, Kontan Keuangan, Sindonews Ekonomi & Bisnis)