Karhutla 2026 Mengguncang Taman Nasional, BRIN Uji Pati Singkong untuk Pemadaman
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda belasan taman nasional di Indonesia, menebar kabut asap hingga Asia Tenggara. BBC menyoroti kegagalan Satgas Taman Nasional, sementara Katadata dan Sindonews melaporkan BRIN akan menguji coba pemadaman dengan pati singkong dan amonium polifosfat (APP). CNN Indonesia melaporkan kebakaran di Taman Nasional Pangkep masih berkobar selama 22 hari, dan Detik Travel mengungkap dampak parah pada sektor pariwisata. Bagaimana prosedur pemadaman yang ideal dan peran inovasi teknologi dalam menanggulangi karhutla menjadi sorotan utama.
Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, karhutla 2026 telah menghanguskan belasan taman nasional, menimbulkan kritik tajam terhadap kinerja Satgas Taman Nasional. Sindonews Nasional menambahkan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan segera melakukan uji coba pemadaman menggunakan campuran tepung singkong dan APP, mengingat karakteristik kebakaran gambut yang dapat merambat di bawah permukaan. Katadata Riset & Ekonomi menegaskan bahwa riset BRIN berfokus pada pemanfaatan pati atau starch sebagai agen penutup api, dengan harapan memperlambat penyebaran kebakaran. Sementara itu, CNN Indonesia melaporkan bahwa kebakaran di Taman Nasional Pangkep, Sulawesi Selatan, telah berlangsung selama 22 hari, meski kondisi kini terkendali melalui pemantauan titik api. Detik Travel Nusantara menyoroti dampak kabut asap yang meluas ke wilayah wisata Asia Tenggara, mengganggu perjalanan dan menurunkan kunjungan wisatawan. Semua laporan tersebut menekankan perlunya koordinasi lintas lembaga, termasuk BMKG, Satgas Karhutla, dan pihak riset, untuk mempercepat penanganan dan mengimplementasikan teknologi baru yang sedang diuji.
Dampak bagi pembaca
Kerusakan ekosistem dan gangguan pariwisata akibat kabut asap memperburuk ekonomi daerah dan menambah beban kesehatan masyarakat. Implementasi uji coba pati singkong oleh BRIN dapat menjadi alternatif pemadaman yang lebih ramah lingkungan, namun memerlukan skala uji lapangan yang luas. Pemerintah disarankan memperkuat koordinasi Satgas, meningkatkan kapasitas pemadam di lapangan, serta mempercepat adopsi teknologi inovatif untuk mengurangi frekuensi dan dampak karhutla di masa mendatang.
Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Katadata Riset & Ekonomi, Sindonews Nasional, CNN Indonesia Nasional & Politik)