Houthi Serang Riyadh dengan Drone dan Rudal, Saudi Dihantam Sirine
Kelompok bersenjata Houthi yang menguasai wilayah utara Yaman melancarkan dua operasi militer pada Sabtu, 19 September 2026, menargetkan ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta fasilitas energi di pesisir Laut Merah; serangan drone dan rudal balistik memicu sirine darurat di kota, sementara pada pagi yang sama Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan 48 jet tempur F‑35 ke Riyadh, menambah ketegangan geopolitik di kawasan.
Berdasarkan laporan Republika News pada 20 September 2026 pukul 09.50 WIB, milisi Houthi mengklaim telah meluncurkan drone dan rudal balistik ke Riyadh, disertai bunyi sirine yang menggelegar di seluruh ibu kota. Dua jam kemudian, Republika News kembali menyoroti bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari dua operasi militer terkoordinasi yang juga menargetkan fasilitas energi Saudi Aramco di wilayah pesisir Laut Merah. Kedua laporan menekankan bahwa Houthi menyebut aksi ini sebagai respons terhadap tekanan politik dan militer yang mereka rasakan, meski tidak ada pernyataan resmi dari pihak Saudi mengenai kerusakan material. Sementara itu, CNN Indonesia Internasional melaporkan pada 20 September 2026 pukul 06.14 WIB bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan 48 jet siluman F‑35 kepada Arab Saudi. Meskipun laporan ini tidak membahas serangan Houthi secara langsung, keberadaan penjualan senjata canggih menambah dimensi geopolitik, memperkuat persepsi bahwa Riyadh tengah memperluas kemampuan pertahanannya di tengah ancaman serangan lintas batas. Perbandingan sudut pandang menunjukkan bahwa Republika News fokus pada aksi militer Houthi dan dampaknya terhadap keamanan domestik Saudi, sedangkan CNN menyoroti aspek kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan implikasi penjualan senjata strategis. Tidak ada data telemetri resmi yang dapat mengonfirmasi detail teknis serangan, sehingga laporan media menjadi sumber utama informasi.
Dampak bagi pembaca
Serangan Houthi menimbulkan kepanikan publik di Riyadh, memaksa otoritas sipil mengaktifkan sistem peringatan sirine dan menyiapkan respons darurat. Potensi kerusakan pada fasilitas energi dapat mengganggu pasokan minyak global, meski belum ada laporan kerusakan signifikan. Penjualan F‑35 yang disetujui AS menandakan peningkatan kemampuan pertahanan Saudi, namun juga dapat memicu perlombaan senjata di wilayah Teluk, memperburuk ketegangan antara Yaman, Saudi, dan sekutu Barat. Pemerintah Saudi diperkirakan akan memperketat pengawasan wilayah udara serta meningkatkan koordinasi intelijen dengan sekutu, sementara komunitas bisnis energi memantau kemungkinan fluktuasi harga minyak akibat ketidakpastian keamanan.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Republika News, Republika News, CNN Indonesia Internasional)