GeeGitMEDIA
Rupiah Menguat Jelang Rapat Dewan Gubernur BI, Suku Bunga Diproyeksi Bertahan 5,75 Persen
finansial

Rupiah Menguat Jelang Rapat Dewan Gubernur BI, Suku Bunga Diproyeksi Bertahan 5,75 Persen

23 Sep 2026 • 13:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan harian dari berbagai media nasional pada Rabu, 23 September 2026, nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah bayang-bayang penantian pasar atas pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Proyeksi Suku Bunga BI Rate5,75%
Nilai Tukar Dolar AS (CNBC)Rp17.835
Telemetri USD/IDRRp17.819,65
Perubahan Kurs Harian-0,28%
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Liputan dari Katadata Riset & Ekonomi mencatat bahwa penguatan rupiah terjadi jelang detik-detik pengumuman RDG Bank Indonesia pada Rabu (23/9). Sementara itu, laporan dari CNBC Indonesia Market merinci bahwa rupiah berhasil menguat pada pembukaan perdagangan hari yang sama, dengan posisi dolar AS yang tercatat turun ke level Rp17.835. Di sisi lain, proyeksi kebijakan moneter turut menjadi sorotan lembaga riset. Berdasarkan laporan Republika News, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Pandangan senada juga disampaikan oleh Sindonews Ekonomi & Bisnis yang meramal Bank Indonesia tetap menahan suku bunga acuan pada angka 5,75 persen dalam RDG September 2026. Konfirmasi dari data telemetri finansial resmi menunjukkan pergerakan nilai tukar pasangan USD/IDR berada di angka Rp17.819,65 dengan persentase perubahan sebesar -0,28 persen, mencerminkan adanya apresiasi mata uang Garuda terhadap dolar AS seiring ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral.

Dampak bagi pembaca

Dinamika pergerakan nilai tukar rupiah dan keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia memberikan implikasi langsung bagi para pelaku usaha, investor, serta stabilitas harga barang impor di pasar domestik. Keputusan untuk menahan suku bunga di level 5,75 persen diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi dan meredam tekanan volatilitas global. Pelaku pasar dan industri disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan moneter lanjutan serta melakukan manajemen risiko nilai tukar secara disiplin guna mengantisipasi fluktuasi pasar keuangan.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Republika News, Sindonews Ekonomi & Bisnis, Katadata Riset & Ekonomi)