IHSG Turun 0,21% ke 6.135 Sesi I Selasa (29/9) di Tengah Tekanan Bursa Regional
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan dalam empat hari perdagangan berturut-turut pada Selasa, 29 September 2026, sesi pertama. Berdasarkan laporan terkini dari berbagai sumber media nasional, IHSG terperosok ke zona merah sebesar 0,21% ke level 6.135, sementara nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan signifikan di pasar keuangan.
Berdasarkan laporan Kontan Investasi & Makro, IHSG ditutup melemah 0,21% ke posisi 6.135 pada sesi I perdagangan Selasa (29/9/2026). Sentimen negatif ini diperkuat oleh liputan Sindonews Ekonomi & Bisnis yang mencatat bahwa indeks sempat dibuka melemah menyentuh level 6.118,81 sebelum akhirnya terus merosot mendekati level psikologis 6.000 dengan mayoritas sektor berada di zona merah. Dari kacamata eksternal, CNBC Indonesia Market menyoroti bahwa IHSG tidak bergerak sendirian karena bursa Asia-Pasifik secara mayoritas turut melemah akibat lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran inflasi global dan kebijakan suku bunga. Tekanan eksternal ini diperparah oleh laporan CNN Indonesia Ekonomi yang mencatat nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.001 per dolar AS pada pagi harinya. Sementara itu, Detik Finance melaporkan bahwa pelemahan tajam juga melanda sejumlah emiten energi dan pertambangan seperti saham AADI, ADRO, hingga PTBA yang menjadi jajaran top losers bersama GOTO. Penurunan saham-saham tersebut dipicu oleh sentimen domestik berupa perubahan regulasi sektor pertambangan yang membatasi keterlibatan anak usaha dalam proses produksi. Tekanan makroekonomi ini turut bersinggungan dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) pada Agustus 2026 berada di level 3,19 persen.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan beruntun IHSG serta jebolnya nilai tukar rupiah memberikan implikasi nyata bagi iklim investasi domestik, pelaku pasar modal, serta daya beli konsumen akibat potensi imported inflation. Investor disarankan untuk menerapkan strategi diversifikasi portofolio yang ketat dan memantau perkembangan kebijakan moneter global maupun domestik. Sementara itu, emiten sektor pertambangan perlu melakukan penyesuaian operasional cepat menyusul regulasi baru yang membatasi ruang gerak anak usaha.
Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (CNBC Indonesia Market, Kontan Investasi & Makro, Detik Finance)