GeeGitMEDIA
Rupiah Melemah ke Rp 17.933 per Dolar AS di Tengah Ekspektasi Pengetatan Kebijakan The Fed
finansial

Rupiah Melemah ke Rp 17.933 per Dolar AS di Tengah Ekspektasi Pengetatan Kebijakan The Fed

25 Sep 2026 • 13:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 25 September 2026, akibat meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta sentimen global yang mempengaruhi pasar keuangan domestik.

Kurs USD/IDR (Telemetri)Rp 17.932,7
Perubahan Harian+0,77%
Pembukaan Pasar Spot (Kontan)Rp 17.935 / USD (-0,11%)
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan himpunan laporan dari berbagai media ekonomi dan finansial nasional pada Jumat, 25 September 2026, tekanan terhadap mata uang Garuda terlihat jelas sejak sesi pembukaan pasar. Liputan Kontan Investasi & Makro mencatat bahwa rupiah di pasar spot dibuka melemah 0,11% ke level Rp 17.935 per dolar AS, menempatkannya sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada hari tersebut. Kondisi ini sejalan dengan laporan CNBC Indonesia Market yang mengonfirmasi bahwa rupiah memasuki perdagangan akhir pekan dengan tren lesu, di mana dolar AS kembali menembus level psikologis Rp17.900. Sementara itu, konfirmasi dari data telemetri resmi pasar valas mencatat nilai tukar USD/IDR berada di kisaran Rp 17.932,7 dengan tingkat perubahan harian sebesar 0,77 persen. Menghadapi tekanan eksternal tersebut, CNN Indonesia Ekonomi melaporkan bahwa pihak Bank Indonesia (BI) langsung mengambil langkah antisipatif dengan menyiapkan sejumlah jurus jaga stabilitas nilai tukar. Otoritas moneter menyatakan optimisme bahwa stabilitas pasar dapat terus dijaga melalui instrumen intervensi di pasar serta pemberian insentif yang menarik untuk menjaga keberlanjutan aliran modal asing masuk ke dalam negeri. Di sisi lain, dinamika pasar keuangan global juga diwarnai oleh sentimen dari pasar aset kripto. Berdasarkan laporan Republika News, pasar kripto sempat mengalami gejolak setelah Senat Amerika Serikat gagal memajukan regulasi CLARITY Act pada 15 September 2026. Akibat ketidakpastian regulasi tersebut, aset seperti Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 4 persen sebelum akhirnya kembali menunjukkan pergerakan menguat.

Dampak bagi pembaca

Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya ketidakpastian global berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku serta beban kewajiban luar negeri bagi pelaku usaha di dalam negeri. Bagi konsumen, kondisi ini dapat berdampak pada potensi kenaikan harga barang impor dan inflasiimported. Langkah intervensi yang disiapkan oleh Bank Indonesia melalui bauran kebijakan dan insentif aliran modal asing menjadi langkah mitigasi krusial untuk meredam volatilitas lanjutan serta menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Republika News, Kontan Investasi & Makro, CNBC Indonesia Market)