Bappenas Dorong Strategi Pencegahan Karhutla Lebih Menyeluruh Pasca Banjir Bandang Solok
Jakarta, Rabu, 23 September 2026 – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Rachmat Pambudy menegaskan perlunya strategi penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi, khususnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), setelah banjir bandang menimpa Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 22 September 2026. Insiden tersebut menewaskan satu orang, meninggalkan satu korban hilang, dan dipicu hujan lebat 94 mm per hari, menyoroti urgensi koordinasi lintas sektor dalam mitigasi bencana alam.
Berdasarkan laporan Republika News, Bappenas menekankan bahwa upaya pencegahan karhutla harus melibatkan perencanaan jangka panjang, pemetaan risiko, serta sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Menteri Pambudy menambahkan bahwa strategi baru akan mencakup peningkatan sistem peringatan dini, rehabilitasi lahan kritis, dan alokasi anggaran khusus untuk program penghijauan serta pengawasan satelit. Sementara itu, Antara Berita Terkini & Bencana melaporkan bahwa tim SAR menemukan satu korban tewas dan masih mencari korban kedua yang dilaporkan hilang akibat banjir bandang di Kabupaten Solok. CNN Indonesia Teknologi menambahkan bahwa BMKG mengidentifikasi curah hujan 94 mm/hari sebagai penyebab utama banjir, sekaligus memperingatkan potensi cuaca ekstrem di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Kedua laporan menegaskan bahwa kejadian banjir ini memperparah kerentanan lahan kering yang rawan kebakaran, sehingga menambah urgensi strategi pencegahan karhutla yang diusulkan Bappenas.
Dampak bagi pembaca
Strategi pencegahan karhutla yang lebih menyeluruh diharapkan dapat mengurangi frekuensi dan intensitas kebakaran hutan, melindungi ekosistem, serta menurunkan risiko kerugian ekonomi bagi petani dan industri pariwisata. Dengan mengintegrasikan data cuaca ekstrem BMKG dan pengalaman penanganan banjir, pemerintah dapat memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat. Bagi masyarakat, kebijakan ini berarti peningkatan edukasi tentang praktik pertanian berkelanjutan dan akses ke bantuan teknis, sementara lembaga terkait diharapkan meningkatkan koordinasi lapangan untuk menghindari tumpang tindih respons bencana.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Antara Berita Terkini & Bencana, Republika News, CNN Indonesia Teknologi)