GeeGitMEDIA
IHSG Turun 0,27% ke 6.423,5 pada Sesi I Senin 21 September
finansial

IHSG Turun 0,27% ke 6.423,5 pada Sesi I Senin 21 September

21 Sep 2026 • 13:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Pada Senin, 21 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,27% atau 17,64 poin menjadi 6.423,51 pada penutupan sesi I Bursa Efek Indonesia. Penurunan dipicu tekanan dari sektor energi dan keuangan, sementara pembukaan perdagangan tercatat di zona merah pada level 6.432. Investor memantau pergerakan ini di tengah nilai tukar dolar AS yang menguat menjadi Rp17.822,7 per USD.

IHSG Penutupan Sesi I6.423,51
Perubahan Poin-17,64 poin
Persentase Penurunan-0,27 %
USD/IDR (Telemetri)Rp17.822,7 per USD
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan CNBC Indonesia Market, IHSG ditutup melemah di level 6.423,51 setelah sektor energi dan keuangan memberikan tekanan jual. Kontan Investasi & Makro mengonfirmasi angka yang sama, menambahkan bahwa penurunan sebesar 17,64 poin tercapai pada akhir perdagangan sesi I. Kedua media menekankan bahwa penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang hati-hati menjelang pekan. Sindonews Ekonomi & Bisnis menyoroti volatilitas intra‑hari: indeks sempat menguat pada pembukaan, mencapai 6.451, namun kemudian berbalik turun dan menyentuh level terendah 6.408 sebelum kembali naik ke penutupan. Detik Finance melaporkan bahwa pada pagi hari IHSG dibuka melemah di zona merah pada level 6.432 dan sempat berada di sekitar 6.400, menandakan tekanan awal yang konsisten. Sebagai konteks makro, data resmi telemetri menunjukkan nilai tukar USD/IDR pada 17.822,7 rupiah per dolar, naik 0,54% dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan dolar biasanya memberi tekanan tambahan pada saham-saham yang memiliki eksposur impor, memperkuat narasi penurunan IHSG yang dilaporkan oleh keempat media.

Dampak bagi pembaca

Penurunan IHSG sebesar 0,27% menandakan sentimen pasar yang cenderung defensif, terutama bagi portofolio yang terpapar sektor energi dan keuangan. Investor dapat mempertimbangkan diversifikasi ke sektor yang lebih tahan banting atau meninjau eksposur terhadap mata uang asing mengingat penguatan dolar AS. Broker dan lembaga keuangan diperkirakan akan meningkatkan pemantauan likuiditas dan memberikan rekomendasi mitigasi risiko kepada klien, sementara pelaku pasar harus memperhatikan volatilitas intra‑hari yang masih tinggi.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (CNBC Indonesia Market, Kontan Investasi & Makro, Sindonews Ekonomi & Bisnis)