GeeGitMEDIA
TraderTraitor: Hacker Korea Utara Diduga Bobol Binance dengan Kerugian Rp111‑114 Triliun
finansial

TraderTraitor: Hacker Korea Utara Diduga Bobol Binance dengan Kerugian Rp111‑114 Triliun

02 Nov 2026 • 11:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

TraderTraitor, kelompok peretas yang diduga berafiliasi dengan Korea Utara, dilaporkan berhasil menembus sistem keamanan Binance, bursa kripto terbesar di dunia, dan mencuri aset senilai sekitar US$6,3 miliar (setara Rp111‑114 triliun). Insiden ini pertama kali terungkap pada Sabtu, 31 Oktober 2026 lewat laporan CNN Indonesia, kemudian diikuti oleh pemberitaan Katadata, CNBC Indonesia, dan Sindonews pada 2 November 2026. Peretasan tersebut menimbulkan kekhawatiran global tentang keamanan aset digital, sementara Binance mengklaim telah memulihkan 90% nilai yang hilang.

Kerugian yang Dilaporkan (CNBC)Rp111 triliun
Kerugian yang Dilaporkan (Sindonews)Rp114 triliun
Nilai Aset yang Dicuri (USD)US$6,3 miliar
Persentase Aset yang Dipulihkan (Binance)90 %
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan CNN Indonesia Teknologi, peretas berinisial TraderTraitor menggunakan taktik canggih untuk mengakses dompet kripto Binance dan mencuri aset senilai US$6,3 miliar. Katadata Riset & Ekonomi menyoroti ancaman metode yang dikaitkan dengan kelompok hacker Korea Utara, menekankan bahwa teknik tersebut melibatkan eksploitasi celah keamanan internal dan manipulasi API. CNBC Indonesia Market menambahkan bahwa peretasan ini memicu kekhawatiran global, menyebut kerugian sebesar Rp111 triliun dan menilai bahwa penyimpanan aset digital di bursa besar kini berisiko tinggi. Sindonews Ekonomi & Bisnis melaporkan bahwa Binance telah berhasil memulihkan 90% dari total aset yang dicuri, setara dengan USD6,3 miliar atau Rp114 triliun, melalui dana internal perusahaan. Pernyataan resmi Binance menegaskan komitmen untuk mengganti rugi seluruh nasabah yang terdampak, meskipun proses kompensasi masih berlangsung. Perbedaan angka kerugian antara Rp111 triliun (CNBC) dan Rp114 triliun (Sindonews) mencerminkan variasi konversi nilai tukar pada saat laporan, namun keduanya mengacu pada jumlah yang sama dalam dolar. Para pakar keamanan siber yang dikutip oleh CNBC menilai bahwa serangan ini menunjukkan evolusi taktik peretasan kripto, termasuk penggunaan malware tingkat lanjut dan pemanfaatan kredensial internal. Mereka menyarankan regulator dan bursa untuk memperkuat protokol otentikasi multi‑faktor serta meningkatkan audit keamanan secara berkala.

Dampak bagi pembaca

Peretasan Binance berpotensi menurunkan kepercayaan investor terhadap platform kripto, terutama di pasar Asia Tenggara yang tengah mengalami pertumbuhan signifikan. Risiko kehilangan aset dapat mempercepat pergeseran ke solusi penyimpanan mandiri (self‑custody) atau bursa yang menawarkan asuransi aset. Regulator Indonesia, OJK dan BAPPEBTI, diperkirakan akan memperketat regulasi keamanan siber pada layanan aset digital, sementara Binance harus memperkuat infrastruktur keamanan dan transparansi pemulihan dana. Bagi pengguna, penting untuk diversifikasi portofolio dan mengaktifkan fitur keamanan tambahan guna meminimalkan eksposur terhadap serangan serupa.

Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Katadata Riset & Ekonomi, CNBC Indonesia Market, Sindonews Ekonomi & Bisnis)