Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Brent Mencapai US$115 per Barel
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, konflik di Timur Tengah memanas setelah milisi Houthi Yaman mengancam bandara‑bandara di Arab Saudi, sementara pasar minyak global mencatat potensi harga Brent menembus US$115 per barel. Laporan dari Kontan Investasi & Makro, CNN Indonesia Internasional, dan Sindonews Nasional menyoroti risiko geopolitik yang dapat memicu lonjakan harga energi, sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi jemaah umrah Indonesia yang berada di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Kontan Investasi & Makro, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diprediksi dapat terkoreksi ke level US$87,92 per barel jika gagal menembus resistance teknikal. Namun, analis menekankan bahwa risiko geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah, dapat menahan penurunan tersebut dan bahkan mendorong kenaikan harga Brent hingga US$115 per barel. CNN Indonesia Internasional melaporkan bahwa milisi Houthi Yaman secara terbuka memperingatkan semua bandara di Arab Saudi menjadi target serangan, kecuali Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Peringatan ini dikeluarkan pada pukul 19.35 WIB, menambah ketidakpastian keamanan penerbangan di kawasan yang menjadi jalur utama ekspor minyak dunia. Sindonews Nasional menambahkan bahwa pada pukul 18.43 WIB, Houthi melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) segera mengeluarkan himbauan agar jemaah umrah Indonesia tetap tenang dan melanjutkan ibadah di Mekkah serta Madinah, menegaskan tidak ada korban jiwa di antara mereka.
Dampak bagi pembaca
Ketegangan ini berpotensi mengguncang pasar energi global, memicu kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan biaya transportasi laut serta udara. Bagi Indonesia, lonjakan harga Brent dapat menambah beban impor minyak, sementara ancaman serangan bandara menimbulkan risiko bagi ribuan jemaah umrah yang sedang menunaikan ibadah. Pemerintah diharapkan memperketat koordinasi dengan otoritas Saudi, meningkatkan pemantauan intelijen, serta menyiapkan rencana darurat bagi wisatawan. Di sisi pasar, pelaku industri disarankan diversifikasi sumber energi dan memanfaatkan kontrak lindung nilai untuk mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga minyak.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Kontan Investasi & Makro, CNN Indonesia Internasional, Sindonews Nasional)