Rupiah Anjlok ke Rp17.755, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia Usai The Fed Kerek Suku Bunga
Nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat dan mencatatkan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, menembus level Rp17.755 per dolar AS menyusul keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuannya.
Berdasarkan laporan komprehensif dari berbagai media nasional pada Kamis, 17 September 2026, tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi akibat kebijakan moneter agresif di Amerika Serikat. Liputan CNBC Indonesia Market mencatat bahwa nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.705 per dolar AS pada pagi hari. Sementara itu, laporan Kontan Investasi & Makro mengonfirmasi bahwa secara kumulatif sepanjang 2026, rupiah telah mencatat pelemahan yang signifikan sebesar 6,11% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan koreksi terdalam di Asia. Di sisi lain, Detik Finance dan Sindonews Ekonomi & Bisnis menyoroti pemicu utama gejolak global ini, yakni langkah The Fed yang nekat menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak Juli 2023. Kebijakan bank sentral AS tersebut langsung memicu reaksi keras di kancah politik global, termasuk kemarahan dari Donald Trump. Meskipun demikian, data telemetri pasar keuangan mencatat pergerakan fluktuatif di mana pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran nilai Rp17.670,25 dengan perubahan harian sebesar -0,15% seiring dinamika perdagangan yang terus berjalan.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan tajam rupiah ke level Rp17.755 berdampak langsung terhadap lonjakan biaya impor bahan baku industri, kenaikan beban utang luar negeri korporasi, serta potensi penyesuaian harga barang konsumsi di pasar domestik. Pelaku usaha dan otoritas moneter perlu memperkuat strategi mitigasi risiko nilai tukar, mengoptimalkan instrumen hedging, serta menjaga stabilitas cadangan devisa guna meredam volatilitas pasar keuangan yang masih dipengaruhi sentimen global.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Kontan Investasi & Makro, CNBC Indonesia Market, Detik Finance)