GeeGitMEDIA
Peringatan Hashim Rupiah ke Rp21.000 dan Proyeksi Pasar Valas
finansial

Peringatan Hashim Rupiah ke Rp21.000 dan Proyeksi Pasar Valas

30 Okt 2026 • 03:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang diprediksi bisa merosot hingga menyentuh level Rp21.000 per dolar AS, di tengah dinamika pasar keuangan yang disorot oleh berbagai media pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Proyeksi Risiko RupiahRp21.000 per Dolar AS
Kurs USD/IDR TerkiniRp18.143,0
Perubahan Persen Harian-0,18%
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan dari Sindonews Ekonomi & Bisnis yang dirilis pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 22.50 WIB, Hashim Djojohadikusumo memperingatkan adanya risiko anjloknya nilai tukar rupiah yang dinilai semakin parah hingga ke level Rp21.000 per dolar AS. Sementara itu, liputan dari CNN Indonesia Ekonomi pada pukul 16.55 WIB di hari yang sama mengungkapkan bahwa prediksi tersebut disampaikan Hashim saat ia menyinggung berbagai persoalan pasar, termasuk indeks MSCI dan fenomena saham gorengan, yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi makro nasional. Di sisi lain, Kontan Investasi & Makro dalam beritanya pukul 21.39 WIB mencatat situasi pergerakan nilai tukar yang berbeda tipis secara harian, di mana rupiah sempat menguat ke posisi Rp18.137 per dolar AS. Data telemetri resmi pasar keuangan turut mengonfirmasi posisi pergerakan tersebut, dengan nilai tukar USD/IDR tercatat berada di level Rp18.143,0 dengan perubahan persentase sebesar -0,18 persen.

Dampak bagi pembaca

Potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang signifikan memberikan kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku usaha, khususnya sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pembiayaan valuta asing. Implikasi nyata dari situasi ini menuntut adanya langkah mitigasi konkret dari otoritas moneter serta manajemen risiko yang lebih ketat bagi korporasi untuk menghadapi potensi volatilitas pasar yang tinggi.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Sindonews Ekonomi & Bisnis, Kontan Investasi & Makro, CNN Indonesia Ekonomi)