IHSG Terperosok ke 6.384 di Awal Pekan, BEI Siapkan Aturan Baru Harga Saham Rp1
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok semakin dalam ke level 6.384 pada perdagangan awal pekan, Senin, 21 September 2026, di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai ratusan miliar rupiah serta pengumuman perombakan aturan batas harga minimum saham oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan laporan Sindonews Ekonomi & Bisnis, IHSG ditutup di zona merah pada Senin, 21 September 2026, dengan total nilai transaksi mencapai Rp11,8 triliun. Tekanan terhadap pasar modal ini turut dikonfirmasi oleh liputan Kontan Investasi & Makro yang mencatat adanya aksi jual bersih (net sell) asing berskala jumbo senilai Rp510,07 miliar yang menyeret indeks kembali tertekan di awal pekan. Di sisi lain, dinamika bursa juga diwarnai oleh kebijakan strategis otoritas pasar. Melalui konfirmasi dari CNBC Indonesia Market dan CNN Indonesia Ekonomi, Bursa Efek Indonesia secara resmi memutuskan untuk menyesuaikan batasan harga minimum saham yang dapat diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai. Batas bawah yang sebelumnya dipatok pada Rp50 kini diturunkan menjadi Rp1, di mana aturan baru ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 28 September 2026 guna meningkatkan likuiditas serta fleksibilitas perdagangan. Sementara itu, pergerakan sektor keuangan dan pasar modal domestik pada hari yang sama juga berlangsung di tengah fluktuasi nilai tukar mata uang. Data telemetri resmi mencatat kurs Dolar AS (USD/IDR) berada di level 17.869,5 dengan pergerakan menguat sebesar 0,26 persen, memberikan konteks tambahan terhadap sentimen makroekonomi yang dihadapi para pelaku pasar.
Dampak bagi pembaca
Kejatuhan IHSG ke level 6.384 dan aksi jual bersih asing yang masif menuntut investor untuk lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio serta memperketat manajemen risiko. Di sisi lain, pemberlakuan aturan baru batas harga minimum saham menjadi Rp1 mulai 28 September mendatang akan membuka ruang likuiditas baru bagi saham-saham berkapitalisasi kecil (gocap), namun investor ritel diimbau untuk mewaspadai potensi volatilitas tinggi yang menyertainya.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Kontan Investasi & Makro, CNBC Indonesia Market, CNN Indonesia Ekonomi)