Rupiah Anjlok Tembus Rp 18.117 Per Dolar AS di Tengah Sentimen Global
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan berat dan terperosok hingga menyentuh level Rp 18.117 per dolar AS pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026 siang hari, seiring pelemahan pasar saham domestik dan kekhawatiran geopolitik global.
Berdasarkan himpunan laporan dari berbagai media nasional pada Senin, 26 Oktober 2026, tekanan terhadap mata uang Garuda sudah terlihat sejak sesi pembukaan pagi hari. Liputan CNN Indonesia Ekonomi mencatat rupiah dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen di level Rp 18.085 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, riset dari Katadata mengonfirmasi pergerakan serupa di mana kurs pagi dibuka pada level Rp 18.085 per dolar AS sebelum akhirnya terus merosot. Laporan Antara Berita Terkini & Bencana menambahkan bahwa pelemahan ini turut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi tensi konflik di kawasan Timur Tengah. Tekanan jual di pasar keuangan domestik semakin tak terhindarkan menjelang siang hari. Liputan CNBC Indonesia Market melaporkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan dengan pelemahan lebih dari 1 persen. Di sisi lain, laporan Kontan Investasi & Makro mengonfirmasi bahwa nilai tukar rupiah di pasar spot kian terpuruk menembus level psikologis Rp 18.100 per dolar AS, bahkan menyentuh titik terendah harian di level Rp 18.117 per dolar AS pada tengah hari. Konfirmasi data telemetri pasar keuangan menunjukkan pergerakan yang selaras dengan laporan observasi lapangan tersebut. Data resmi nilai tukar mencatatkan pasangan mata uang USD/IDR berada di level 18.107,8 dengan tingkat perubahan harian tercatat mengalami penguatan pelemahan dolar sebesar 0,18 persen, memperkuat validitas tren depresiasi rupiah yang sedang berlangsung.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga melampaui level Rp 18.100 per dolar AS membawa implikasi langsung bagi perekonomian nasional, khususnya lonjakan biaya impor bahan baku industri dan tekanan inflasi barang konsumsi. Pelaku usaha dan importir disarankan untuk mengoptimalkan strategi lindung nilai (hedging) guna memitigasi risiko volatilitas nilai tukar yang tinggi, sementara otoritas moneter diharapkan terus memantau likuiditas pasar guna menjaga stabilitas makroekonomi.
Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Kontan Investasi & Makro, CNBC Indonesia Market, Antara Berita Terkini & Bencana)