GeeGitMEDIA
Aksi Jual Asing Tembus Rp94,87 Triliun Sepanjang 2026, IHSG Terkoreksi Di Tengah Antrean 9 IPO
finansial

Aksi Jual Asing Tembus Rp94,87 Triliun Sepanjang 2026, IHSG Terkoreksi Di Tengah Antrean 9 IPO

24 Okt 2026 • 17:10 WIB · Redaktur Desk Finansial

Berdasarkan laporan lintas media ekonomi nasional pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pasar modal Indonesia menghadapi dinamika signifikan ditandai oleh aksi jual investor asing yang menembus angka Rp94,87 triliun serta koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 37,82%, di tengah persiapan sembilan perusahaan yang mengantre melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aksi Jual AsingRp94,87 Triliun
Koreksi IHSG37,82%
Antrean Perusahaan IPO9 Perusahaan
Redaksi BertugasRedaktur Desk Finansial

Liputan dari Sindonews Ekonomi & Bisnis yang dirilis pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 13.25 WIB mencatat bahwa aksi jual bersih oleh investor asing di pasar saham domestik telah terjadi secara masif sejak Januari hingga 23 Oktober 2026. Tekanan arus modal keluar tersebut berdampak langsung pada pergerakan pasar, di mana IHSG mengalami koreksi tajam hingga 37,82%. Dinamika fluktuatif ini menuntut perhatian khusus bagi para pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian global dan domestik. Sementara itu, mengutip laporan Detik Finance pada hari yang sama pukul 16.57 WIB, aktivitas korporasi di lantai bursa tetap menunjukkan denyut kehidupan. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat sembilan perusahaan yang masuk dalam daftar antrean atau pipeline penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Kehadiran deretan calon emiten baru ini mengindikasikan bahwa minat korporasi untuk menghimpun pendanaan publik melalui pasar modal masih terus berjalan di balik tekanan makroekonomi yang terjadi. Menanggapi situasi pasar yang bergejolak, liputan CNN Indonesia Ekonomi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 08.01 WIB memberikan panduan strategis bagi investor, khususnya pemula. Para investor diimbau agar tidak mengambil keputusan secara emosional atau panik saat menghadapi pasar yang fluktuatif, melainkan fokus pada analisis fundamental perusahaan serta menerapkan strategi investasi jangka panjang yang terukur.

Dampak bagi pembaca

Koreksi tajam pada IHSG serta tingginya aksi jual asing berpotensi menurunkan tingkat likuiditas jangka pendek dan memicu sentimen wait and see di kalangan investor ritel. Namun, masuknya sembilan perusahaan dalam antrean IPO memberikan alternatif diversifikasi aset bagi investor yang jeli melihat prospek fundamental emiten baru. Pelaku pasar, terutama investor pemula, disarankan untuk memperkuat manajemen risiko, menghindari aksi panik (panic selling), serta melakukan seleksi ketat berdasarkan kinerja fundamental perusahaan sebelum memutuskan penempatan dana.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Detik Finance, Sindonews Ekonomi & Bisnis, CNN Indonesia Ekonomi)