IHSG Menguat 0,95% ke 5.105, Top Gainers LQ45: DEWA, INDY, BUMI
Pada Senin, 2 November 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat 0,95% dan ditutup pada level 5.105,20 setelah dibuka lesu di 5.039. Pergerakan ini terjadi di tengah aliran dana asing yang menjual bersih Rp342,08 miliar, sementara saham TPIA menjadi yang paling banyak dibeli. Top gainers LQ45 hari itu adalah DEWA, INDY, dan BUMI. Kondisi pasar dipengaruhi oleh sentimen setelah penurunan tajam pada hari sebelumnya dan inflasi Oktober 2026 yang tercatat 3,23% year‑on‑year.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia Market, IHSG menutup sesi I menguat 0,95% di 5.105,20 dan mencatat penjualan bersih asing sebesar Rp342,08 miliar, dengan TPIA menjadi saham paling diminati. Kontan Investasi & Makro menekankan bahwa penguatan terjadi setelah indeks sempat berada di zona merah di bawah level psikologis 5.000 pada pembukaan. Sindonews Ekonomi & Bisnis menambahkan bahwa perdagangan awal November dimulai dengan koreksi 0,35% ke level 5.039, menandakan volatilitas yang cukup tinggi pada pagi hari. Katadata Riset & Ekonomi memberikan konteks historis, melaporkan bahwa pada hari pertama implementasi pembobotan indeks tanpa saham HSC, IHSG sempat rontok ke 4.994. Penurunan tersebut menjadi latar belakang penting bagi pergerakan rebound pada sesi I. Meskipun data telemetri resmi BPS tentang inflasi (3,23% y‑o‑y pada Oktober 2026) tidak langsung memengaruhi angka indeks, tingkat inflasi yang masih moderat memberi dukungan bagi ekspektasi kebijakan moneter yang stabil, sehingga memperkuat sentimen bullish di pasar saham. Kombinasi faktor-faktor tersebut—penurunan awal, aliran dana asing, serta konteks kebijakan makro—menjelaskan mengapa investor domestik dan institusi kembali menumpuk saham unggulan LQ45, khususnya DEWA, INDY, dan BUMI, yang mencatat kenaikan signifikan pada sesi tersebut.
Dampak bagi pembaca
Penguatan IHSG di atas 5.100 menandakan pergeseran sentimen positif setelah penurunan tajam pada hari sebelumnya, yang dapat mendorong aliran masuk dana baru, terutama pada saham-saham blue‑chip LQ45. Investor perlu memperhatikan volatilitas pada pembukaan, karena koreksi awal masih dapat terjadi. Data inflasi BPS yang tetap berada di kisaran 3,23% memberi indikasi bahwa kebijakan suku bunga Bank Indonesia kemungkinan tidak akan berubah drastis dalam waktu dekat, sehingga pasar ekuitas dapat tetap menarik bagi alokasi portofolio. Namun, aliran dana asing yang masih menjual bersih menandakan adanya kehati‑hatian eksternal, sehingga diversifikasi dan pemantauan likuiditas tetap penting.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (CNBC Indonesia Market, Kontan Investasi & Makro, Katadata Riset & Ekonomi)