Rupiah Melemah ke 18.150 per Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi Oktober 2026
Menjelang pengumuman data ekonomi penting oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, 2 November 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau dibuka melemah hingga mencapai level 18.150 per dolar AS.
Berdasarkan laporan Katadata Riset & Ekonomi, pergerakan nilai tukar rupiah mengalami tekanan pada perdagangan Senin pagi, 2 November 2026, sebelum data resmi inflasi dirilis ke publik. Data telemetri finansial mendapati pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran nilai tukar 18.148,2 dengan perubahan sekitar 0,03 persen. Tidak lama berselang, Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Oktober 2026. Berdasarkan konfirmasi data resmi BPS dan liputan Antara Berita Terkini & Bencana, perekonomian nasional tercatat mengalami inflasi tahunan atau *year-on-year* (yoy) sebesar 3,23 persen. Sementara itu, berdasarkan laporan Republika News dan CNN Indonesia Ekonomi, inflasi bulanan (*month-to-month*/mtm) tercatat sebesar 0,22 persen dengan kenaikan IHK yang bergerak dari angka 112,31. Liputan mendalam dari Detik Finance serta CNN Indonesia Ekonomi menambahkan bahwa sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama lonjakan inflasi bulanan tersebut. Komoditas hortikultura seperti cabai merah dan cabai rawit tercatat memberikan andil paling besar dalam mendongkrak kenaikan harga di tingkat konsumen pada bulan Oktober 2026.
Dampak bagi pembaca
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level 18.150 per dolar AS di tengah tren kenaikan inflasi tahunan sebesar 3,23 persen memberikan tekanan tambahan bagi biaya impor bahan baku dan stabilitas harga barang di dalam negeri. Pelaku industri dan konsumen perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya operasional serta penyesuaian harga barang kebutuhan pokok. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan dapat memperkuat koordinasi pengendalian harga pangan strategis guna menjaga daya beli masyarakat dan meredam gejolak pasar keuangan.
Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Antara Berita Terkini & Bencana, Republika News, CNN Indonesia Ekonomi)