GeeGitMEDIA
Studi Baru Ungkap Proses Pengisian Ulang Magma di Kaldera Kikai Jepang
sains

Studi Baru Ungkap Proses Pengisian Ulang Magma di Kaldera Kikai Jepang

24 Okt 2026 • 05:10 WIB · Redaktur Desk Sains

Berdasarkan laporan ScienceDaily Research News pada Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 18.23 WIB, para ilmuwan menggunakan survei seismik bawah air untuk menemukan bahwa reservoir magma masif di bawah Kaldera Kikai, Jepang, sedang terisi kembali oleh magma segar, 7.300 tahun setelah letusan purba yang dahsyat.

Waktu Sejak Letusan Kikai7.300 tahun
Rilis Berita KikaiJumat, 23 Oktober 2026, 18.23 WIB
Redaksi BertugasRedaktur Desk Sains

Penemuan ini memberikan wawasan penting bagi para peneliti untuk memahami bagaimana gunung berapi super, seperti Yellowstone dan Toba, membangun kembali suplai magma mereka setelah letusan bersejarah di masa lalu. Berdasarkan riset tersebut, akumulasi magma ini terpantau berada jauh di dalam struktur bawah laut kaldera, menunjukkan aktivitas vulkanik jangka panjang yang masih berlangsung di wilayah tersebut. Sementara itu, dalam laporan terpisah dari Phys.org Science & Nanotech yang dirilis pada Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 03.20 WIB, para peneliti dari Tohoku University menyoroti perkembangan material adsorben dalam studi yang diterbitkan di jurnal ACS Materials Au. Riset tersebut mengidentifikasi fitur molekuler kunci untuk memandu pengembangan material yang lebih efektif dalam menghilangkan zat PFAS dari air demi menjaga kualitas lingkungan.

Dampak bagi pembaca

Meskipun aktivitas pengisian ulang magma di Kaldera Kikai merupakan temuan ilmiah yang krusial untuk mitigasi bencana jangka panjang dan pemahaman vulkanologi global, masyarakat dan otoritas maritim tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika geologi bawah laut. Di sisi lain, pengembangan material adsorben untuk pemurnian air dari PFAS memberikan solusi nyata bagi industri pengolahan air bersih guna melindungi kesehatan masyarakat dari paparan zat kimia berbahaya.

Buka sumber asal: Kompilasi 2 Media (Phys.org Science & Nanotech, ScienceDaily Research News)