GeeGitMEDIA
Harga Minyak Tembus US$ 106 per Barel, Pasar Waspadai Gangguan Jalur Pasokan Global
umum

Harga Minyak Tembus US$ 106 per Barel, Pasar Waspadai Gangguan Jalur Pasokan Global

24 Sep 2026 • 09:10 WIB · Redaksi GeeGit

Pasar energi global dihadapkan pada ketidakpastian tinggi setelah harga minyak dunia melonjak hingga mencapai US$ 106 per bensin akibat penutupan pipa krusial di Timur Tengah, memicu kekhawatiran meluas terhadap stabilitas pasokan energi domestik dan tekanan inflasi di Indonesia pada Kamis, 24 September 2026.

Harga Minyak DuniaUS$ 106 per Barel
Inflasi Year-on-Year BPS3,19 Persen
Redaksi BertugasRedaksi GeeGit

Berdasarkan laporan Katadata Riset & Ekonomi pada Kamis, 24 September 2026, 06.15 WIB, kenaikan harga minyak mentah ini telah terjadi selama dua hari beruntun seiring para pelaku pasar yang terus menimbang risiko geopolitik dan berhentinya operasional pipa penting di kawasan Arab. Situasi ini langsung direspons oleh berbagai media nasional dengan menyoroti kerentanan sektor energi dalam negeri. Sementara itu, liputan CNN Indonesia Ekonomi pada Kamis, 24 September 2026, 08.10 WIB, memperingatkan bahwa gangguan pada dua jalur pasokan global tidak hanya mengancam ketersediaan energi nasional, tetapi juga berpotensi mengerek naik harga Bahan Bakar Minyak (BBM), membebani ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta memicu lonjakan inflasi jika krisis ini berlarut-larut. Sebagai langkah antisipasi, Sindonews Ekonomi & Bisnis melaporkan pada hari yang sama pukul 07.51 WIB bahwa pemerintah Indonesia berencana untuk tetap melanjutkan impor minyak mentah dari Rusia guna mengamankan pasokan domestik, meskipun di tengah bayang-bayang ancaman tarif Amerika Serikat sebesar 100 persen. Konfirmasi atas tekanan ekonomi ini terlihat dari data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatkan inflasi tahunan (year-on-year) pada Agustus 2026 telah berada di level 3,19 persen. Kondisi makroekonomi ini menuntut kehati-hatian ekstra dari otoritas terkait dalam mengelola kebijakan fiskal dan subsidi energi agar tidak membebani daya beli masyarakat lebih dalam.

Dampak bagi pembaca

Lonjakan harga minyak hingga US$ 106 per barel membawa implikasi nyata bagi beban fiskal negara melalui potensi pembengkakan subsidi energi dan risiko kenaikan harga BBM di tingkat konsumen. Pemerintah dan pelaku industri energi harus memperkuat diversifikasi pasokan, mempercepat transisi energi terbarukan, serta mengoptimalkan efisiensi anggaran guna memitigasi dampak rambatan terhadap inflasi domestik yang saat ini berada di angka 3,19 persen.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (CNN Indonesia Ekonomi, Sindonews Ekonomi & Bisnis, Katadata Riset & Ekonomi)