GeeGitMEDIA
Transisi Hijau ASEAN dan Proyeksi Ekonomi Indonesia Menuju Target 2026
ekonomi

Transisi Hijau ASEAN dan Proyeksi Ekonomi Indonesia Menuju Target 2026

29 Sep 2026 • 21:10 WIB · Redaktur Desk Ekonomi

Upaya transisi hijau di kawasan ASEAN harus berjalan beriringan dengan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi, sementara pemerintah Indonesia membidik tambahan pertumbuhan signifikan dari sektor ekonomi hijau dan digital di tengah proyeksi makroekonomi yang positif pada Selasa, 29 September 2026.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2026 (BPS)5,29 Persen
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 (HSBC)5,4%
Potensi Ekonomi Digital ASEANRp7.200 T - Rp10.800 Triliun
Subsidi Energi Tahun DepanRp261,50 Triliun
Redaksi BertugasRedaktur Desk Ekonomi

Berdasarkan laporan Kontan Industri & Pangan pada Selasa, 29 September 2026, 19.40 WIB, transisi hijau di kawasan ASEAN tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi semata, melainkan juga bagaimana setiap negara mampu menjaga ketahanan energi serta mempertahankan daya saing ekonomi regional. Langkah strategis ini mendapat sorotan lebih lanjut dari pemerintah nasional melalui berbagai target pertumbuhan ekonomi. Dalam liputan Katadata Riset & Ekonomi, Menko Airlangga menargetkan tambahan pertumbuhan sebesar 2 hingga 3 persen yang bersumber dari sektor ekonomi hijau. Sementara itu, berdasarkan konfirmasi data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi, BPS mencatat ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen (Y-on-Y). Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi mendekati 6 persen pada akhir tahun, sejalan dengan proyeksi Bank HSBC yang dirilis oleh Sindonews Ekonomi & Bisnis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan mencapai 5,4%. Di sisi lain, potensi ekonomi digital turut menjadi pendorong utama. Berdasarkan laporan CNN Indonesia Ekonomi, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk meraup Rp7.200 triliun hingga Rp10.800 triliun dari pertumbuhan ekonomi digital ASEAN. Kendati demikian, penyesuaian fiskal tetap berjalan; Detik Finance melaporkan bahwa subsidi energi (BBM dan listrik) pada tahun depan dipangkas menjadi Rp261,50 triliun dari alokasi sebelumnya sebesar Rp272,94 triliun.

Dampak bagi pembaca

Implikasi dari transisi hijau dan proyeksi pertumbuhan ini menuntut sektor industri dan masyarakat untuk beradaptasi dengan efisiensi energi di tengah penyesuaian subsidi fiskal. Langkah mitigasi yang perlu dilakukan pemerintah dan pelaku usaha adalah mengoptimalkan pendanaan hijau, mempercepat digitalisasi sektor produktif, serta memastikan subsidi energi tepat sasaran agar daya saing industri tetap terjaga tanpa membebani daya beli masyarakat.

Buka sumber asal: Kompilasi 5 Media (Kontan Industri & Pangan, Katadata Riset & Ekonomi, CNN Indonesia Ekonomi)