Dua Pejabat Wanita UEFA Maju Jadi Calon Presiden FIFA, Tantang Infantino
Pada Rabu, 14 Oktober 2026, UEFA mengumumkan dua pejabat perempuan sebagai calon presiden FIFA, menandai langkah strategis untuk menantang kepemimpinan Gianni Infantino. Pengumuman ini disampaikan lewat laporan CNN Indonesia Olahraga, sementara Al Jazeera World Affairs menyoroti pertemuan Infantino dengan pemberontak FIFA di Zurich pada 15 Oktober 2026. Kedua calon dipilih karena popularitas dan pengalaman mereka dalam sepak bola wanita, dan UEFA berharap mereka dapat mengubah arah kebijakan FIFA yang kini dipertanyakan, terutama terkait dana pengembangan sebesar $6,35 miliar yang dijanjikan kepada anggota.
Berdasarkan laporan CNN Indonesia Olahraga, UEFA merencanakan perlawanan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino dengan menjajaki dua tokoh perempuan populer sebagai calon Presiden FIFA. Kedua pejabat tersebut, yang belum disebutkan namanya dalam rangkaian laporan, dipilih karena rekam jejak mereka dalam mengembangkan sepak bola wanita di Eropa. UEFA menilai bahwa kehadiran perempuan di pucuk pimpinan FIFA dapat memperkuat agenda kesetaraan gender dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan dana pengembangan. Sementara itu, Al Jazeera World Affairs melaporkan bahwa Infantino menghadapi pemberontak FIFA di Zurich setelah penjualan saham Piala Dunia yang gagal, sekaligus menawarkan dana pengembangan sebesar $6,35 miliar kepada anggota. Laporan tersebut menempatkan dua calon wanita UEFA sebagai bagian dari gerakan internal yang menuntut reformasi. Di sisi lain, BBC Sport Football menyoroti ketidakefisienan struktur play‑off kualifikasi Piala Dunia Wanita, menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan yang lebih responsif terhadap isu‑isu perempuan dalam sepak bola. Kombinasi perspektif ini menunjukkan bahwa tantangan terhadap Infantino tidak hanya bersifat politik, melainkan juga berkaitan dengan kebijakan kompetisi dan pengembangan sepak bola wanita.
Dampak bagi pembaca
Jika dua calon wanita UEFA berhasil memenangkan pemilihan, FIFA berpotensi mengalami pergeseran signifikan dalam kebijakan gender, alokasi dana, dan struktur kompetisi, termasuk reformasi play‑off Piala Dunia Wanita yang kini dianggap tidak efisien. Pergeseran kepemimpinan dapat memicu peninjauan kembali dana $6,35 miliar serta meningkatkan akuntabilitas dalam proyek‑proyek pengembangan global. Bagi federasi nasional, terutama yang mengandalkan dana FIFA, perubahan ini dapat membuka peluang pendanaan yang lebih transparan dan program peningkatan partisipasi perempuan. Namun, proses transisi juga menuntut koordinasi intens antara UEFA, FIFA, dan otoritas sepak bola regional untuk menghindari fragmentasi kebijakan.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Al Jazeera World Affairs, CNN Indonesia Olahraga, BBC Sport Football)