DNA Purba Ungkap Wabah Penyakit Bubonic Membunuh Keluarga di Siberia 5.500 Tahun Lalu
Peneliti mengungkapkan bahwa bakteri penyebab wabah bubonic telah mematikan kelompok pemburu-pengumpul di Siberia sekitar 5.500 tahun yang lalu, jauh sebelum munculnya kota‑kota dan epidemi berbasis kutu pada abad ke-14; temuan ini dipublikasikan pada Selasa, 15 September 2026, 09.54 WIB oleh ScienceDaily setelah analisis DNA kuno mengidentifikasi faktor genetik yang memicu reaksi imun berlebihan.
Berdasarkan laporan ScienceDaily Research News, tim arkeogenetika mengekstrak DNA dari tulang manusia pra‑sejarah yang ditemukan di situs arkeologi Siberia. Analisis molekuler mengidentifikasi jejak Yersinia pestis, bakteri penyebab plague, dengan mutasi khusus yang dapat memicu respons imun berlebihan pada inang. Peneliti menekankan bahwa wabah ini terjadi pada masyarakat pemburu‑pengumpul, yang hidup dalam kelompok kecil, sehingga kematian massal dapat meluas ke seluruh keluarga. Sementara itu, Phys.org Science & Nanotech pada hari yang sama memuat artikel tentang lubang hitam di galaksi NGC 1068 yang memancarkan aliran gas kuat. Meskipun topik tersebut tidak berhubungan dengan wabah purba, kehadirannya menunjukkan beragamnya liputan ilmiah pada tanggal yang sama, menegaskan pentingnya verifikasi lintas‑sumber dalam jurnalisme sains. Tidak ada data telemetri resmi yang dapat mengonfirmasi temuan ini, namun metodologi DNA kuno yang dipublikasikan dalam jurnal *Astronomy & Astrophysics* (untuk studi lubang hitam) dan *Nature* (untuk studi plague) memberikan standar ilmiah yang dapat dipercaya. Kedua laporan menyoroti penggunaan teknologi canggih—infrared spectroscopy pada NGC 1068 dan sequensing DNA pada sampel Siberia—sebagai contoh kemajuan penelitian lintas disiplin.
Dampak bagi pembaca
Penemuan ini memperluas pemahaman tentang evolusi Yersinia pestis, menunjukkan bahwa kemampuan patogen untuk menimbulkan wabah memunculkan jauh sebelum peradaban urban. Implikasi bagi epidemiologi modern meliputi perlunya survei genetik patogen kuno untuk mengidentifikasi potensi mutasi berbahaya. Selain itu, hasil ini dapat memicu revisi kronologi sejarah penyakit menular, memberi perspektif baru bagi para ahli sejarah medis dan kebijakan kesehatan dalam menilai risiko zoonotik di masa depan.
Buka sumber asal: Kompilasi 2 Media (Phys.org Science & Nanotech, ScienceDaily Research News)