GeeGitMEDIA
Pakar UGM: PLTP Gunung Ungaran 55 MW Perkuat Pasokan Listrik Jawa Tengah
umum

Pakar UGM: PLTP Gunung Ungaran 55 MW Perkuat Pasokan Listrik Jawa Tengah

16 Sep 2026 • 11:20 WIB · Redaksi GeeGit

Pada Rabu, 16 September 2026, seorang pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran berkapasitas 55 megawatt (MW) sangat mendesak untuk memperkuat keandalan pasokan listrik di provinsi Jawa Tengah, mengingat pertumbuhan beban listrik regional dan target dekarbonisasi pemerintah.

Kapasitas PLTP55 MW
LokasiGunung Ungaran
ProvinsiJawa Tengah
Redaksi BertugasRedaksi GeeGit

Berdasarkan laporan Republika News, pakar UGM menilai pengembangan PLTP Gunung Ungaran sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil dan menstabilkan jaringan listrik yang kini sering mengalami fluktuasi pada jam beban puncak. Ia menambahkan bahwa lokasi geotermal Gunung Ungaran memiliki potensi panas bumi yang cukup untuk mendukung operasi berkelanjutan dengan kapasitas 55 MW. Dua laporan lain dari Republika News pada hari yang sama membahas topik politik internal Partai Golkar dan diskusi fikih Islam terkait kecerdasan buatan; keduanya tidak menyentuh isu energi, menegaskan bahwa hanya satu media yang mengangkat pernyataan pakar tersebut. Tidak ada data telemetri resmi yang tersedia untuk mengonfirmasi produksi energi atau status konstruksi PLTP pada saat penulisan, sehingga analisis mengandalkan pernyataan ahli dan data kapasitas yang telah dipublikasikan.

Dampak bagi pembaca

Jika PLTP Gunung Ungaran beroperasi sesuai rencana, tambahan 55 MW dapat menurunkan risiko pemadaman listrik di Jawa Tengah, khususnya bagi industri manufaktur dan sektor pertanian yang bergantung pada pasokan listrik stabil. Peningkatan pasokan energi terbarukan juga mendukung komitmen Indonesia pada agenda Net Zero Emisi 2060, sekaligus membuka peluang investasi di bidang teknologi panas bumi. Namun, realisasi proyek tetap memerlukan penyelesaian izin lingkungan, pendanaan, dan infrastruktur transmisi yang memadai.

Buka sumber asal: Republika News