GeeGitMEDIA
Rosatom dan Indonesia Sepakati Pasokan Listrik PLTN Terapung 200 MW di Maluku Utara
ekonomi

Rosatom dan Indonesia Sepakati Pasokan Listrik PLTN Terapung 200 MW di Maluku Utara

19 Okt 2026 • 17:10 WIB · Redaktur Desk Ekonomi

Berdasarkan laporan Detik Finance pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 15.26 WIB, badan tenaga atom asal Rusia, Rosatom, bersama pihak Indonesia telah menyepakati pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terapung berkapasitas 200 megawatt (MW) untuk wilayah Halmahera, Maluku Utara.

Kapasitas PLTN Terapung200 MW
Kapasitas Proyek PLTS Nasional100 GW
Potensi Penghematan PLTSRp 74 triliun per tahun
Redaksi BertugasRedaktur Desk Ekonomi

Kerja sama strategis ini menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral di sektor energi antara Indonesia dan Rusia, khususnya dalam penyediaan pasokan listrik berbasis teknologi nuklir terapung di kawasan Indonesia Timur. Liputan Detik Finance menyoroti bagaimana proyek berskala 200 MW ini diarahkan langsung untuk memperkuat infrastruktur kelistrikan di Halmahera, Maluku Utara. Sementara itu, lanskap pengembangan energi nasional pada hari yang sama juga diramaikan oleh sejumlah inisiatif energi terbarukan lainnya dari berbagai instansi. Berdasarkan laporan Republika News pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 16.24 WIB, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) berpotensi menghasilkan penghematan hingga Rp 74 triliun per tahun serta membuka jutaan lapangan kerja. Di sisi lain, liputan Sindonews Ekonomi & Bisnis pada pukul 11.39 WIB mencatat bahwa Pertamina NRE bersama Komando Daerah Angkatan Laut III (Kodaeral III) dan PT Lumitech Daya Nusantara turut menjajaki peluang investasi PLTS di sejumlah pangkalan TNI Angkatan Laut.

Dampak bagi pembaca

Kesepakatan pasokan listrik PLTN terapung 200 MW di Maluku Utara membawa implikasi besar bagi keandalan pasokan energi industri dan domestik di wilayah kepulauan terluar, sekaligus menandai diversifikasi bauran energi nasional menuju teknologi nuklir. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan aspek pengawasan keselamatan yang ketat, transfer pengetahuan teknologi, serta mitigasi lingkungan guna menjamin keberlanjutan proyek energi jangka panjang ini.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Republika News, Detik Finance, Sindonews Ekonomi & Bisnis)