Pertamina Tambah Pasokan BBM Subsidi di Sulsel, Harga Pertamax Diprediksi Rp 18.000‑20.000
Pada Sabtu, 12 September 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penambahan pasokan BBM bersubsidi ke sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan setelah antrean mengular, sementara unit Patra Energi memperkirakan harga Pertamax dapat mencapai Rp 18.000‑20.000 per liter bila harga minyak reli naik. Detik Finance menegaskan bahwa harga Pertalite tidak akan naik hingga akhir 2026. Pengumuman ini disampaikan menjelang akhir kuartal pertama tahun anggaran 2027 sebagai respons peningkatan permintaan regional.
Berdasarkan laporan Kontan Industri & Pangan, Pertamina Patra Energi menyoroti potensi kenaikan harga Pertamax ke kisaran Rp 18.000‑20.000 per liter apabila harga minyak reli terus meningkat. Detik Finance, di sisi lain, menekankan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap dipertahankan pada harga saat ini hingga akhir tahun 2026, menyingkirkan spekulasi kenaikan tarif. CNN Indonesia Ekonomi melaporkan langkah operasional: penambahan volume BBM subsidi ke SPBU‑SPBU di Sulsel untuk mengurangi antrean panjang yang dilaporkan pada pagi hari. Ketiga media sepakat bahwa kebijakan ini bersifat sementara dan berorientasi pada stabilisasi pasokan serta perlindungan konsumen. Tidak ada data telemetri resmi yang relevan dengan BBM dalam paket telemetri yang tersedia (hanya data harga emas XAU/USD), sehingga konfirmasi angka harga BBM tetap mengandalkan pernyataan perusahaan.
Dampak bagi pembaca
Penambahan pasokan BBM subsidi di Sulsel diharapkan menurunkan tekanan antrean di SPBU, menjaga mobilitas masyarakat, dan menstabilkan inflasi energi regional. Prediksi kenaikan harga Pertamax dapat memicu pergeseran konsumsi ke bahan bakar bersubsidi, sementara kepastian harga Pertalite memberi kepercayaan bagi pelaku usaha transportasi. Pemerintah dan regulator diharapkan memantau realisasi pasokan serta menyiapkan kebijakan penyesuaian tarif bila harga minyak dunia berfluktuasi signifikan.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Kontan Industri & Pangan, Detik Finance, CNN Indonesia Ekonomi)