GeeGitMEDIA
Rupiah Rawan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen Defisit APBN Jadi Pemicu
umum

Rupiah Rawan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen Defisit APBN Jadi Pemicu

12 Okt 2026 • 15:10 WIB · Redaksi GeeGit

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Di tengah bayang-bayang pelemahan akibat sentimen defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pasar memantau ketat pergerakan mata uang Garuda di kisaran level Rp17.800 hingga mendekati Rp17.950 per dolar AS.

Rupiah Spot SiangRp17.913 per Dolar AS
Pembukaan Dolar ASRp17.883 per Dolar AS
Proyeksi Rawan PelemahanRp17.950 per Dolar AS
Telemetri USD/IDR17.880,55 (-0,22%)
Redaksi BertugasRedaksi GeeGit

Berdasarkan laporan Kontan Investasi & Makro pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 12.24 WIB, rupiah spot tercatat melemah 0,07% ke level Rp17.913 per dolar AS pada perdagangan siang pukul 12.19 WIB. Sementara itu, liputan Detik Finance pada pukul 09.27 WIB mencatat bahwa dolar AS sempat melemah tipis ke level Rp17.883 pada pembukaan perdagangan hari yang sama. Di sisi lain, Sindonews Ekonomi & Bisnis dalam beritanya pukul 08.15 WIB menyoroti bahwa kerentanan pelemahan rupiah hingga level Rp17.950 per dolar AS dipicu oleh rilis kinerja fiskal domestik yang mencatatkan peningkatan defisit anggaran per akhir kuartal ketiga. Konfirmasi data telemetri keuangan resmi dari TwelveData mencatat nilai tukar USD/IDR berada di angka 17880.55 dengan persentase perubahan sebesar -0.22 persen. Angka ini sejalan dengan dinamika pergerakan pasar spot yang dihimpun dari berbagai sumber media, di mana tekanan sentimen fiskal domestik masih menjadi motor penggerak utama volatilitas nilai tukar di awal pekan ini.

Dampak bagi pembaca

Fluktuasi nilai tukar rupiah dan potensi pelemahan menuju level Rp17.950 per dolar AS memberikan implikasi langsung terhadap biaya impor bahan baku industri serta beban kewajiban luar negeri. Pelaku usaha dan otoritas terkait perlu memperkuat strategi mitigasi risiko nilai tukar, mengoptimalkan pengelolaan devisa, serta menjaga disiplin fiskal guna meredam sentimen negatif pasar.

Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Kontan Investasi & Makro, Detik Finance, Sindonews Ekonomi & Bisnis)