Pertamina Tambah 57,9 Juta Liter BBM dan Kerahkan 108 Mobil Tangki Pulihkan Bali
Upaya masif dilakukan untuk mengatasi antrean kendaraan di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang sempat terjadi di Pulau Bali akibat kendala distribusi energi. Berdasarkan himpunan laporan dari berbagai media nasional seperti Detik Finance, Kontan Industri & Pangan, Katadata Riset & Ekonomi, serta Sindonews Ekonomi & Bisnis yang dirilis pada Rabu, 14 Oktober hingga Kamis, 15 Oktober 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengerahkan tambahan pasokan sebanyak 57,9 juta liter BBM serta menyiagakan puluhan armada khusus dan operasional SPBU non-stop.
Berdasarkan laporan Katadata Riset & Ekonomi, penambahan pasokan hingga 57,9 juta liter tersebut dilakukan guna meredam lonjakan permintaan dan mengatasi antrean panjang di SPBU, yang didukung pula oleh penambahan jadwal kedatangan kapal tanker. Sementara itu, liputan Kontan Industri & Pangan merinci langkah operasional di lapangan dengan menyiagakan sebanyak 108 unit mobil tangki serta mengerahkan 465 personel tambahan untuk mempercepat rantai distribusi pasokan bahan bakar ke berbagai wilayah di Bali. Di sisi lain, Detik Finance menyoroti langkah taktis hilir yang diambil manajemen dengan mengoperasikan secara penuh sebanyak 66 SPBU selama 24 jam penuh untuk mengurai penumpukan kendaraan. Sinergi langkah pemulihan ini juga dikonfirmasi secara komprehensif oleh Sindonews Ekonomi & Bisnis, yang mencatat bahwa PT Pertamina Patra Niaga terus mengoptimalkan seluruh lini logistik dan operasional demi menstabilkan kembali ketersediaan energi di destinasi pariwisata utama tersebut.
Dampak bagi pembaca
Normalisasi rantai pasok dan operasional SPBU 24 jam ini sangat vital untuk menjaga stabilitas mobilitas masyarakat serta kelancaran sektor pariwisata di Bali, yang menjadi penggerak utama ekonomi regional. Dengan terkendalinya distribusi BBM, lonjakan harga akibat kepanikan pasar dapat diredam, sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) pada September 2026 berada di level 3,28 persen. Langkah mitigasi ke depan menuntut pengawasan ketat pada jalur distribusi logistik laut dan darat agar pasokan energi tetap resilien terhadap potensi lonjakan permintaan mendadak.
Buka sumber asal: Kompilasi 4 Media (Detik Finance, Kontan Industri & Pangan, Katadata Riset & Ekonomi)