Buya Yahya Ungkap Fakta: Pemilik Pesugihan Tidak Menjadi Budak Setan Setelah Mati
Menurut laporan Sindonews Kalam & Budaya pada Sabtu, 19 September 2026, 16.28 WIB, tokoh spiritual Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah atau keagamaan yang mendukung mitos bahwa orang yang pernah melakukan pesugihan akan menjadi budak setan setelah meninggal. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara khusus yang menanggapi pertanyaan publik yang kerap muncul seiring berkembangnya kepercayaan mistik di Indonesia.
Berdasarkan laporan Sindonews, Buya Yahya menjelaskan bahwa praktik pesugihan—yang melibatkan upaya memperoleh kekayaan melalui bantuan makhluk gaib—tidak memiliki konsekuensi metafisik seperti menjadi budak setan setelah kematian. Ia menekankan bahwa dalam tradisi keagamaan Islam, setiap individu tetap berada di hadapan Allah dan tidak ada mekanisme spiritual yang mengikat jiwa seseorang menjadi budak setan karena perbuatan duniawi. Buya Yahya juga menambahkan bahwa klaim semacam itu biasanya muncul dari cerita turun‑temurun yang tidak didukung data atau penelitian resmi. Sementara itu, dua laporan media lain yang dihimpun—Republika News tentang indeks perkawinan dan CNN Indonesia tentang kematian model Presley Gerber—tidak menyentuh topik pesugihan sama sekali. Hal ini menegaskan bahwa isu ini masih sangat terpusat pada narasi budaya dan kepercayaan lokal, tanpa adanya liputan lintas media yang memperkuat atau menolak mitos tersebut. Karena tidak ada telemetri resmi atau data statistik yang relevan, verifikasi fakta bergantung pada penjelasan ahli seperti Buya Yahya dan kajian keagamaan tradisional.
Dampak bagi pembaca
Pernyataan Buya Yahya dapat meredam kepanikan dan stigma sosial terhadap keluarga atau individu yang pernah terlibat dalam praktik pesugihan. Dengan menegaskan bahwa tidak ada konsekuensi spiritual seperti menjadi budak setan, masyarakat diharapkan lebih kritis terhadap rumor dan lebih fokus pada upaya pencegahan penipuan finansial. Pemerintah dan lembaga keagamaan dapat memperkuat edukasi publik melalui program literasi keagamaan dan kampanye anti‑penipuan, sehingga mitos semacam ini tidak lagi menjadi bahan spekulasi yang menimbulkan keresahan sosial.
Buka sumber asal: Kompilasi 3 Media (Republika News, CNN Indonesia Gaya Hidup & Wisata, Sindonews Kalam & Budaya)